Oseltamivir Disebut Obat Setan, Ini Kata Dokter

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 19 Juli 2021 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 481 2442953 oseltamivir-disebut-obat-setan-ini-kata-dokter-E6k1TIDi57.jpg Obat (Foto: Middle east medical)

SEJAK dikeluarkannya revisi Panduan Tatalaksana Pengobatan Covid-19 dari Lima Organisasi Profesi terkait dengan penggunaan Oseltamivir dan Azitromicin kepada pasien Covid-19, kini beredar kabar miring terkait dengan obat-obatan tersebut di masyarakat. Kabar tersebut menyebut bahwa Oseltamivir adalah obat setan, berbahaya, dan bisa merenggut nyawa.

Sebagaimana diketahui, revisi Panduan Tatalaksana Pengobatan Covid-19 dari Lima Organisasi Profesi menyebut bahwa pemberian obat antivirus dan antibiotik harus dengan resep dokter. Artinya kedua obat ini baru akan diberikan jika ada indikasi tertentu. Sebab penggunaan antibiotik yang berlebih pada era pandemi Covid-19, menjadi ancaman global terhadap meningkatnya kejadian bakteri multiresisten.

 obat

Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i menekankan, statemen yang menyebut Oseltamivir sebagai obat setan yang berbahaya adalah salah dan hanyalah hoax belaka. Hal tersebut ia sampaikan di akun Instagram pribadinya @dr.fajriaddai, pada Minggu 18 Juli 2021.

“Salah apabila ada anggapan bahwa Oseltamivir adalah obat berbahaya, menyebabkan kematian, bahkan tidak memberikan manfaat bagi pasien Covid-19,” tegas dr. Fajri.

Sebelumnya dr. Fajri pernah menjelaskan bahwa Oseltamivir merupakan obat antiviral yang digunakan untuk pengobatan dan pencegahan infeksi influenza tipe A dan B. Obat ini bekerja dengan menghambat neuroamidase yang dibutuhkan oleh virus influenza untuk merilis virus-virus baru di akhir proses replikasi.

Oseltamivir diberikan secara empiris pada masa awal pandemi Covid-19. Karena sulitnya membedakan gejala pasien Covid-19 dan pasien yang terinfeksi virus Influenza. Saat ini Oseltamivir dapat ditambahkan pada kondisi di mana pasien Covid-19 diduga terinfeksi virus influenza.

"Harus sangat hati-hati dalam memberikan antibiotik dan antivirus karena dapat membuat resistensi antibiotik dan antivirus dan sangat berbahaya. Kecuali dengan indikasi tertentu berdasarkan penilaian dokter," kata dr. Fajri.

Dokter Fajri menjelaskan, berdasarkan publikasi Lancet terbaru pada 9 Juli 2021 menyimpulkan pada pasien Covid-19 dengan derajat ringan-sedang yang tidak dirawat di rumah sakit, pemberian Azitromisin tidak menurunkan risiko masuk rumah sakit dan kematian. (Tidak terbukti bermanfaat).

"Pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, pemberian Azitromisin tidak terbukti menurunkan risiko kematian, lama rawat inap, dan risiko pemakaian ventilasi mekanik. Sehingga pemakaian harus dibatasi kecuali ada indikasi kuat," tuturnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini