Curhat Mahasiswa Indonesia Harus Magang ke Jerman di Tengah Pandemi

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 20 Juli 2021 09:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 20 612 2443180 curhat-mahasiswa-indonesia-harus-magang-ke-jerman-di-tengah-pandemi-iqHav4gMYM.jpg Celine Yara Liga. (Foto: Instagram)

BANYAK pengalaman menarik yang didapat mahasiswa Indonesia saat magang di luar negeri. Seperti Celine Yara Liga, harus magang di Jerman awal tahun ini.

Celine magang menjadi video editor di perusahaan swasta di Jerman. Harus berangkat ke luar negeri di masa pandemi, tak sesulit yang dibayangkan.

Celine menceritakan suka dukanya berangkat ke Jerman, hingga dirinya harus tinggal di sana dalam beberapa waktu. Dia salah satu mahasiswa yang ikut mengimplementasikan program Merdeka Belajar.

"Pengalaman aku sama teman-teman berangkat ke Jerman 2021 ini, pas pandemi ini untuk tetap lanjut studi ke Jerman."

 Celine

"Kita mematuhi prokes di Indonesia maupun Jerman. Sebelum berangkat, kita melakukan karantina mandiri selama 1 minggu, lalu pcr test," ucap mahasiswi Swiss German University (D

SGU), baru-baru ini.

Setiba di Jerman, Celine harus karantina 2 minggu. Di sana juga diwajibkan untuk PCR test. Di saat karantina mandiri, difasilitasi dengan baik.

"Di bulan pertama ada 1 dosen dari Indonesia yang mengurus anak-anak dalam hal surat, atm, sim card serta kalo ada kendala lainnya," ujarnya.

Di bulan berikutnya, Celine ditemani dosen dari kampus di Jerman. Di sana Celine mengalani banyak tantangan.

Celine harus WFH dan WFO saat magang. Disiplin waktu juga menjadi kunci hidup di Jerman.

Celine pun merasa kesulitan berkomunikasi dengan orang Jerman karena beberapa hal.

"Susah sekali saya berinterasi dengan orang Jerman, mereka indivdualis," tambahnya.

Walau begitu, Celine merasa pengalaman ini menyenangkan dan bisa membentuk karakter pribadinya. Ia juga menjadi lebih disiplin.

"Contohnya dari masalah waktu ,mereka sangat menghargai waktu. Waktu itu mahasiswa telat datang 1 menit, dikunci kelasnya."

"Awalnya terkesan berlebihan, dan kita dihargai sebagai pendatang, etik ini beda dengan di Indonesia," ucapnya.

Bukan saja itu, ketika Celine mendapat jatah WFH, dia justru merasa tidak nyaman. Karena Celine merasa kesulitan berkomunikasi.

"Aku merasa seperti enggak produktif dan enggak bisa komunikasi langsung. Tapi aku harus menemukan solusi lainnya," ujarnya.

Caranya adalah Celine bicara ke atasan dengan menyiapkan 25 materi video yang akan diedit. Jangan sampai pandemi jadi penghalang untuk tak produktif.

Kalaupun WFH, Celine berusaha menunjukkan feedback positif. "Kuncinya ini ada di tanggung jawab, ada di Jerman sekarang semakin bertumbuh dengan hal baru yang ditemui."

"Aku beranikan diri proaktif dengan atasan aku, lalu teman-teman aku di Jerman yang beda kewarganegaraan," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini