Deretan Dokter Muda yang Tak Lelah Mengedukasi Masyarakat dan Tangkal Hoaks Covid-19

Tim Litbang MPI, Jurnalis · Rabu 21 Juli 2021 19:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 481 2443980 deretan-dokter-muda-yang-tak-lelah-mengedukasi-masyarakat-dan-tangkal-hoaks-covid-19-BKEmSRTju1.jpg Dokter muda (Foto: The ET)

Jangan Gampang Termakan Hoaks

Saat berbincang dengan MPI, Dokter Tirta juga bersuara tentang pernyataan Lois Owien yang berlatar belakang dokter, yang menyebut pasien Covid-19 yang meninggal dunia bukan dikarenakan serangan virus SARS-CoV2, melainkan interaksi antar-obat. Lois menilai pemberian obat oleh dokter ke pasien Covid-19 dapat memperparah kondisi kesehatan mereka hingga akhirnya meninggal dunia.

"Pernyataan Lois akhirnya buat orang-orang takut sama rumah sakit (RS), itu sebenarnya nggak bisa dibenarkan statementnya itu. Hoaks lainya berupa vitamin C yang diminum 1 gram tiap 3 jam, susu menyembuhkan Covid, air kelapa menyembuhkan Covid, uap panas menyembuhkan Covid, vaksin memiliki microchip, vaksin itu menyebabkan mutasi, wah itu ngawur semua itu," ujar Tirta Mandira Hudhi yang akrab disapa dr Tirta saat dihubungi MPI, Senin (19/7/2021).

Menurut Tirta, cara menangkal hoaks Covid-19 sebenarnya adalah pekerjaan rumah dari tiga pihak yaitu pemerintah, masyarakat, dan tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus lebih tegas untuk membasmi hoaks dan memberikan efek jera.

"Hoaks seperti ini terakhir Lois Owien. Kelak akan muncul Lois-Lois yang lain. Jadi alangkah lebih baik pemerintah juga harus tegas membasmi hoaks. Di Indonesia ini Covid-19 nggak selesai karena ada penyebaran hoaks. Hoaks ini kayak gulma, potong satu tumbuh seribu, karena ketidaktegasan dari regulator," urai influencer kesehatan ini.

Tirta juga meminta agar masyarakat hanya mempercayai informasi yang diterbitkan dari Kementerian atau institusi resmi di Indonesia. "Jangan termakan provokasi karena banyak orang yang ingin memanfaatkan situasi apalagi lewat broadcast-an grup yang akhirnya tidak bisa didipastikan. Walaupun itu sebenarnya mencatut nama saya, itu tetap tidak boleh, harus dipastikan dulu lihat dari medsos yang terkait," ujarnya.

Dia juga mengajak agar para tenaga kesehatan (nakes) untuk terus menyosialisasikan informasi berdasarkan fakta melalui informasi yang dikemas seatraktif dan semenarik mungkin untuk dibaca masyarakat. "Nakes dapat terus menggunakan komunikasi yang atraktif dan menarik sehingga bisa dipercaya oleh masyarakat dengan baik," jelasnya.

Sementara itu, dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Muhamad Fajri AddaI mengatakan, serangan hoaks mengenai Covid-19 dapat dicegah bila masyarakat melakukan cek sumber, berpikir kritis, dan bertanya kepada ahlinya. "Nomor satu baca dulu sumbernya, misalnya dari sumber yang kredibel, itu dulu. Sumber ini menjadi penentu. Kalau sumbernya udah nggak jelas, cuma forward WhatsApp, susah nanti," ucapnya.

Dia menambahkan, pelaku penyebar hoaks, selain pintar membuat hoaks, memancing logika yang membangkitkan keresahan, juga dapat memainkan emosi para pembacanya. "Jadi misalnya kondisi PPKM Darurat yang rumit seperti ini, dia bikin hoaks yang seolah-olah pro-rakyat, padahal maknanya bisa lebih dari itu dampaknya."

Kemudian masyarakat harus kritis dalam menerima sumber informasi yang diterimanya. Ketika dirasa meragukan, masyarakat dapat melakukan kroscek ulang. "Kritis juga, tanya pada diri sendiri kayaknya ini bener nggak ya, sembari mengecek sumber yang kredibel. Karena harus dipahami hoaks ini orang nyari untung, ada pihak-pihak tertentu yang memang secara profesional meningkatkan traffic pembaca," tuturnya.

"Itulah kenapa pentingnya pemahaman. Sekarang kalau misalnya kita percaya hoaks lalu keluarga kita sakit, itu kan ada tuh kemarin korbannya. Rumah sakit lagi penuh, emang orang yang nyebarin hoaks itu akan bantu kita? Nggak juga," jelas dr. Fajri.

Karena itu, dia mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mengambil data yang hanya disukai saja, sehingga informasi yang diberikan kepada pembaca menjadi tidak utuh. Kadang kita juga jangan mengambil data yang cuma kita suka aja. Padahal itu tidak mengabarkan fakta yang sesungguhnya yang mana kita hidup dalam fakta kalau kita jatuh kita juga yang kena.

"Jadi intinya cari sumber yang kredibel juga perlu kritis. Jangan cuma sekadar logika, cari sama ahlinya atau sumber-sumber yang lain juga. Terus logikanya dipakai, ini membahayakan tidak, jangan yang aneh-aneh," harapnya.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dr. Dwita Oktaria, M.Pd.Ked mengatakan, kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hoaks Covid-19 ini dilatarbelakangi oleh kurangnya literasi digital dan adanya perilaku Fear Of Missing Out (FOMO).

"Memang pendidikan kita itu tidak ada kurikulum literasi digital yang mengajarkan bagaimana kita memilah, memilih sekian banyak informasi yang ada di media digital. Sehingga kita belum melek literasi digital," ucapnya.

Dia pun bercerita saat dirinya mengobati pasien, banyak orang yang mempercayai informasi hoaks seperti jika batuk dan flu tidak boleh tes PCR karena nanti hasilnya akan positif. "Ya mungkin hasilnya memang positif, jadi bukan karena batuk dan pilek terus jadi positif. Tetapi ia memang positif karena terpapar virus Covid-19. Ada juga kok batuk dan pilek tapi tidak positif."

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini