Waspada, Makanan Ultraproses Tingkatkan Risiko Autoimun Pencernaan

Antara, Jurnalis · Kamis 22 Juli 2021 04:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 21 481 2444034 waspada-makanan-ultraproses-tingkatkan-risiko-autoimun-pencernaan-XSwQkg4Syg.jpg Ilustrasi makanan ultraproses. (Foto: Freepik)

ASISTEN profesor dari Universitas McMaster Kanada, Neeraj Narula, melakukan sebuah penelitian yang hasilnya menunjukkan makanan ultraproses meningkatkan risiko gangguan autoimun pencernaan atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) pada tubuh manusia.

Penelitian itu telah dipublikasikan di "British Medical Journal" dan memiliki kesimpulan makin banyak orang mengonsumsi makanan ultraproses maka makin tinggi risiko seseorang mengalami IBD.

Baca juga: Penderita Autoimun Harus Hindari 4 Makanan Ini, Apa Saja Ya? 

Dikutip dari laman Medical News Today, IBD merupakan penyakit inflamasi kronis yang terjadi di bagian pencernaan terdiri dari dua kategori yaitu Penyakit Crohn dan Kolitis Ulseratif.

Untuk Kolitis Ulseratif biasanya peradangan ditemukan di usus besar. Sementara untuk Penyakit Crohn peradangan bisa terjadi di bagian saluran pencernaan mana pun.

Penelitian yang dilakukan Neeraj dan tim mengambil sampel dari 116.000 orang yang tersebar di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan China dengan rentang usia peserta penelitian 35 hingga 70 tahun, mulai pendapatan menengah sampai tinggi.

Peserta penelitian diminta melengkapi frekuensi mengonsumsi makanan dalam 3 tahun terakhir mulai 2003 hingga 2016. Makanan yang dimaksud adalah yang bertipe kemasan, terformulasi mengandung bahan tambahan seperti perasa, pewarna, sampai bahan kimia lainnya. Peserta yang ikut tentunya yang sudah memiliki diagnosis IBD.

Baca juga: Autoimun Membuat Sistem Menyerang Sel yang Sehat, Yuk Atasi Pakai Resep Ustadz Zaidul Akbar 

Dalam penelitian itu didapati juga hasil bahwa konsumsi makanan berbahan sama tanpa ultraproses ternyata tidak membawa risiko yang sama dengan makanan ultraproses. Maka itu, penelitian menyebutkan risiko IBD terhubung dengan cara memproses makanan.

Makanan ultraproses dinilai memiliki kandungan nilai kalori 60 persen lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Pernyataan itu disampaikan oleh epidemiogis dari Kampus Kings London Inggris Profesor Tim Spector.

Makanan ultraproses ini biasanya merupakan makanan dan minuman yang diproduksi secara massal dengan banyak tambahan seperti gula, lemak trans, pewarna, hingga perisa tambahan.

Sebagai contoh, makanan ultraproses di antaranya kentang beku siap goreng, sosis, mi instan, kopi instan, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Pasien Autoimun, HIV, dan Kanker Payudara Boleh Divaksin? 

Berkaca dari temuan tersebut, Neeraj berharap di kemudian hari akan ada penelitian yang mengklarifikasi bagaimana makanan ultraproses mungkin bisa meningkatkan IBD. Masyarakat juga diharapkan bisa memerhatikan kualitas dari makanannya sehingga bisa tetap menjaga kesehatan tubuh.

Makanan dengan kualitas rendah diharapkan bisa dihindari karena dapat melemahkan sistem imun dan menyebabkan reaksi inflamasi yang berlebih pada tubuh sehingga menyebabkan penyakit lainnya di kemudian hari.

Sebisa mungkin masyarakat bisa lebih sadar memilih makanan sehat dibanding makanan yang sudah diproses dengan banyak bahan tambahan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini