Azitromizin dan Oseltamivir Tidak Lagi Diberikan kepada Pasien Covid-19, Ini Alasannya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 22 Juli 2021 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 22 481 2444329 azitromizin-dan-oseltamivir-tidak-lagi-diberikan-kepada-pasien-covid-19-ini-alasannya-d3OMNWcLLw.jpg Obat (Foto: Middle east medical)

SEJAK pemerintah memutuskan bahwa Azitromisin dan Oseltamivir tidak lagi diberikan kepada pasien Covid-19, kabar miring terus berkembang mengenai dua obat tersebut.

Bahkan ada kabar yang menyebutkan bahwa Oseltamivir adalah obat setan yang berbahaya dan memicu terjadinya interaksi obat seperti yang sedang viral dibicarakan beberapa waktu lalu.

 obat

Menanggapi kabar tersebut, Influencer Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda’i melalui akun Instagram pribadinya @dr.fajriaddai, Kamis (22/07/2021) menegaskan bahwa saat ini penelitian dan pengetahuan terus berkembang dengan tujuan untuk membuat peradaban manusia menjadi lebih baik.

Azitromizin dan Oseltamivir tidak lagi diberikan kepada pasien Covid-19 bukan karena bahaya interaksi obat. Melainkan karena belum terbukti efektif pada pasien Covid-19 tanpa gejala dan ringan, serta pertimbangan potensi resistensi bakteri dan virus. Meski demikian, masih dapat diberikan pada pasien Covid-19 jika ada kebutuhan dari dokter.

“Jangan minum antibiotik dan antivirus apapun sembarangan karena dapat menyebabkan resistensi kedua obat tersebut dan berpotensi mengancam nyawa manusia secara luas bukan hanya personal. Karena bakteri atau virus yang kebal tersebut dapat juga menyebar luas,” terang dr. Fajri.

Dalam publikasi Lancet terbaru pada 9 Juli 2021 dengan impact factor 30,7 menyebut pada pasien Covid-19 dengan derajat ringan hingga sedang yang tidak dirawat di rumah sakit, pemberian Azitromisin tidak menurunkan risiko masuk rumah sakit dan kematian (Tidak terbukti bermanfaat). Publikasi terbaru dari JAMA dengan impact factor 56,3 juga menunjukkan hal yang sama.

“Intinya pemberian Azitromisin 1,2 gram dosis tunggal tidak terbukti mengurangi gejala Covid-19 pada hari ke-14 dan risiko masuk rumah sakit pada ‘setting’ pasien yang tidak dirawat di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan sejak Mei 2020 sampai Maret 2021. Penelitian itu rumit dan tidak mudah, jadi tidak perlu cocoklogi karena pernyataan seseorang lalu pedoman terapi suatu negara diubah,” terang dr. Fajri.

Lebih lanjut Azitromisin masih dapat diberikan kepada pasien Covid-19 jika ada indikasi tertentu dan dokter yang akan menentukan. Sebab pengembangan antibiotik itu susah. Karena berpotensi membuat bakteri-bakteri kebal makanya pemakaian antibiotik harus benar-benar selektif. Jadi bukan karena hoax interaksi obat.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini