Akibat Pandemi Covid-19, Kasus Kekerasan pada Anak Meningkat

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 23 Juli 2021 19:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 23 612 2445087 akibat-pandemi-covid-19-kasus-kekerasan-pada-anak-meningkat-1yVXQA19aB.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

PANDEMI Covid-19 tidak hanya mengakibatkan krisis kesehatan dunia, namun meningkatkan pula jumlah kekerasan pada anak. Kondisi seperti ini memang sangat miris, sebab pada usia ini seorang anak bisa mendapatkan haknya untuk bebas dan bermain.

Direktur Kesehatan Keluarga, dr. Erna Mulati, MSc, CMFM menegaskan bahwa saat ini memang sangat banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi pada anak. Parahnya fenomena ini terjadi bukan hanya di Indonesia.

"Sangat banyak. Tidak saja ada di Indonesia tapi seluruh dunia. Dilaporkan hampir semua negara itu mengatakan salah satu dampak pandemi Covid-19 ini adalah terjadi peningkatan kekerasan pada anak," kata dr. Erna, dalam sesi jumpa pers 'Temu Media Hari Anak Nasional 2021', Jumat (23/7/2021).

Kekerasan pada anak

Meski demikian, dr. Erna mengaku tidak bisa menyebutkan jumlah kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Indonesia saat ini. Sebab data tersebut masih terus dilakukan perhitungan dan memiliki keunikan tersendiri.

"Saat ini masih terus dilakukan perhitungan. Karena kekerasan pada anak ada yang dilaporkan dan tidak dilaporkan. Kalau dilaporkan ke KPPPA kita bisa cepat mendapatkan datanya dari situ. Tapi kalau tidak dilaporkan maka akan sangat sulit mendapatkannya," lanjutya.

Baca Juga : Hari Anak Nasional: Yuk Dengarkan Suara Anak-Anak Kita

Dalam kesempatan itu, dr. Erna juga membagikan beberapa jenis keluarga yang berpotensi melakukan kekerasan pada anak:

1.Terutama pada keluarga yang memang sebelum terjadinya Covid-19 ada riwayat melakukan kekerasan terhadap anak.

2.Pada keluarga yang terdampak signifikan terkait dengan ekonomi. Sehingga sering terjadi stres pada orangtua yang dilampiaskan kepada anak-anak mereka.

3.Orangtua pusing, tapi di satu sisi harus bekerja, tapi anaknya juga harus sekolah online. Orangtua yang dikatakanlah tidak bisa mendampingi anak. Biasanya kekerasannya lewat ucapan dan sebagainya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini