Melihat Tren Bedah Plastik Para Perempuan di Pusat Kartel Narkotika Meksiko

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 26 Juli 2021 08:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 26 612 2445947 melihat-tren-bedah-plastik-para-perempuan-di-pusat-kartel-narkotika-meksiko-9hJss0fQBs.jpg Ilustrasi bedah plastik. (Foto: Shutterstock)

Istri bandar narkotika

Emma Coronel Aispuro adalah istri Joaquín 'El Chapo' Guzman. Suaminya adalah mantan kepala kartel Sinaloa yang terkenal. Juni lalu dalam proses persidangan di Washington DC, Amerika Serikat, Emma mengaku bersalah atas konspirasi mendistribusikan narkotik dan berbagai tuduhan lainnya.

Emma dikabarkan pertama kali bertemu Guzman saat masih remaja, di sebuah kontes kecantikan di Durango, Meksiko, pada tahun 2007. Pada pertemuan itu, Emma setuju untuk menikah dengan Guzman.

Menurut Pedro, ada sesuatu yang lebih mendasar di ketimbang keharusan dalam urusan jual-beli narkotika.

"Laki-laki dimotivasi oleh nafsu terhadap bokong dan payudara besar. Lebih dari apa pun, dasarnya adalah itu nafsu," ujarnya.

Baca juga: Ketua IDI Ungkap Kesalahan Umum saat Isolasi Mandiri: Ketika ke RS Sudah Terlambat 

Pedro telah membayar biaya operasi plastik untuk dua perempuan.

"Mungkin orang yang Anda kenal memberitahu Anda, 'Teman saya ingin payudaranya dioperasi atau pantat dan hidungnya diperbaiki. Dia mencari sponsor.'

"Dan jika laki-laki itu tertarik pada perempuan tersebut, dia akan menjadi sponsor atau ayah baptisnya," kata Pedro.

Sebuah kesepakatan pun dilakukan.

"Jadi seorang perempuan mungkin berkata, 'Oke, tubuh saya milik Anda selama enam bulan jika Anda membayarkan biaya operasi saya'," kata Pedro.

Dan kontrak informal ini mungkin tidak hanya untuk berlaku operasi.

"Seringkali jika seorang perempuan bukan dari keluarga kaya, mereka mencari pacar yang bisa mendukung keinginan mereka," ucap Pedro.

"Jadi perjanjian itu mungkin untuk hal-hal seperti pembelian mobil, rumah, barang mewah atau memberi sejumlah uang."

Di Sinaloa, daerah dengan kemiskinan akut dan ancaman kematian yang besar akibat begitu banyak kelompok bersenjata, seorang 'ayah baptis' tidak hanya dapat memberikan kenyamanan untuk perempuan, tapi juga perlindungan.

Inilah yang dicari Carmen (sekali lagi, bukan nama sebenarnya) ketika dia membuat perjanjian dengan bandar narkotik.

Carmen tinggal di Culiacan, kota terbesar di Sinaloa. Dia berasal berasal dari desa miskin yang kerap dilanda kematian anak akibat kelaparan.

"Saya menginginkan kehidupan yang tidak bisa diberikan keluarga saya karena kemiskinan," kata Carmen.

"Jadi ketika saya berusia 16 tahun, saya memberi tahu ibu saya bahwa saya akan hidup sendiri. Saya ingat nenek saya berkata, 'Tapi kamu masih anak-anak, apa yang akan kamu lakukan?' Dan saya berkata, 'Saya punya tangan dan kaki, dan saya cerdas. Saya bisa bekerja'," ujarnya.

Baca juga: Waspadai Long Covid-19, Tubuh Belum Fit meski Sudah Sembuh 

Carmen pindah ke Culiacan dan tinggal bersama salah satu dari banyak keluarga yang terkait dengan kejahatan terorganisir.

Namun di rumah ini dia diserang secara seksual. Carmen mengambil kesempatan dan menceritakan peristiwa itu pada seorang laki-laki yang ditemuinya.

"Dia melihat saya sangat takut dan dia berkata, 'Simpan nomor ponsel saya.' Saya menemukan keberanian untuk meninggalkan rumah itu dan tetap berhubungan dengannya."

Hubungan itu menjadi seksual.

"Dia mengatakan kepada saya, 'Kamu perempuan, kamu sendirian dan tidak ada yang melindungimu di Culiacan, kota yang berbahaya.'

"Dia berkata, 'Aku akan menjadi ayah baptismu.' Jadi saya menemuinya ketika dia ingin menemui saya, dan semua orangnya tahu siapa saya.

"Saya bisa berjalan-jalan di mana saja di Culiacan. Saya merasa sangat terlindungi bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan saya," ujarnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini