Tips Dokter Reisa Mengenali Berita Hoaks Seputar Covid-19

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 27 Juli 2021 18:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 481 2446870 tips-dokter-reisa-mengenali-berita-hoaks-seputar-covid-19-UoSQ15XNXR.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Fierce Biotech)

SELAMA pandemi Covid-19 di Indonesia, yang sudah berlangsung kurang lebih 18 bulan ternyata banyak hoaks bertebaran. Diketahui sudah ada lebih dari 5.000 kabar hoaks seputar Covid-19 di Indonesia.

Bak virus corona, penyebab infeksi Covid-19 itu sendiri, nyatanya kencang dan banyaknya penyebaran kabar hoaks seputar Covid-19 ini bahkan disebutkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro, sebagai kesulitan terbesar yang harus dihadapi Indonesia dalam upaya pengendalian dan penanganan pandemi Covid-19.

 Dokter Reisa

Nah, jangan sampai Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang termakan kabar hoaks apalagi sampai menjadi salah satu penyebarnya.

Maka dari itu, penting untuk bisa mengenali mana yang merupakan berita valid berbasis fakta dan mana yang sekedar hoaks alias kabar palsu semata.

Tips pertama dari dr. Reisa Broto Asmoro, caranya dengan melihat ada atau tidaknya sumber valid yang tertera pada berita tersebut. Kabar hoaks, dikatakan dokter Reisa biasanya memiliki karakter hiperbola, atau dibesar-besarkan.

“Biasanya kalau berita salah itu sifatnya lebay, dibuat bombastis, enggak ada sumber valid. Enggak ada sumber resminya, maka itu kemungkinan besar adalah hoaks. Jadi stop dulu di tangan Anda, lalu cek di situs resmi Kemenkes atau Covid.go.id,” ujar dr. Reisa, dalam siaran Dialog Produktif Semangat Selasa: Update Percepatan Vaksinasi Covid-19, Selasa (27/7/2021).

Anjuran selanjutnya, dokter yang juga ditunjuk jadi Duta Adaptasi Baru satu ini menyarankan masyarakat untuk membiasakan diri mengikuti berita terbaru dari sumber atau tokoh resmi. Contohnya dari juru bicara Kementerian Kesehatan atau perkembangan terbaru yang setiap hari disiarkan pemerintah.

Sebab, berita dari sumber-sumber terpercaya ini, dikatakan dr. Reisa sudah mengalami proses verifikasi berulang, sebelum akhirnya dipublikasikan kepada masyarakat untuk dipastikan kebenarannya.

“Ikuti berita dari sumber resmi, contohnya keterangan Juru Bicara Kemenkes, atau tiap kali update dari pemerintah. Berita-berita yang dibagikan ini tentunya sudah berulang kali diverifikasi baru disampaikan ke sistem-sistem yang membantu untuk menyebarkan,” tutupnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini