Belum Ada Bukti Ilmiah Vaksin Sinovac Tak Efektif Lawan Varian Delta

Siska Permata Sari, Jurnalis · Selasa 27 Juli 2021 18:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 612 2446857 belum-ada-bukti-ilmiah-vaksin-sinovac-tak-efektif-lawan-varian-delta-RSE8x1ADnu.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

VARIAN Delta memang menjadi masalah batu penanganan Covid-19 di Indonesia. Melonjaknya kasus positif Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia disinyalir karena persebaran varian delta.

Munculnya varian baru ini sekaligus menimbulkan pertanyaan baru, apakah vaksin yang sudah beredar akan berfungsi sama baiknya dengan varian lama?

Indonesia sendiri telah menggunakan beberapa jenis vaksin Covid-19 untuk disuntikkan kepada masyarakat. Mulai dari Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, hingga Pfizer. Tapi, dari semua itu baru AstraZeneca dan Pfizer yang mengklaim sudah mampu menghalu varian delta.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sejauh ini semua jenis vaksin yang telah tersedia di Indonesia masih sangat efektif melawan semua varian atau mutasi virus, termasuk Delta.

“Vaksin yang ada sampai saat ini masih sangat efektif melawan semua varian atau mutasi virus yang ada, termasuk varian delta yang kemarin menyebabkan lonjakan kasus yang signifikan," kata Siti Nadia dikutip dari siaran langsung ‘Update Percepatan Vaksinasi Covid-19’ di YouTube FMB9ID_IKP, Selasa (27/7/2021).

"Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah maupun jurnal medis yang mengatakan jenis vaksin tertentu sudah tidak efektif lagi,” tambah dia.

Dia menjelaskan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan merekomendasikan untuk mempercepat vaksinasi untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Inilah yang kelak akan mengurangi laju penularan sekaligus mencegah munculnya varian atau mutasi virus baru.

"Vaksinasi mengurangi risiko terhadap gejala sakit berat dan kematian, serta memberikan perlindungan. Karena, vaksin bekerja untuk melatih sistem kekebalan tubuh kita. Dengan pelatihan yang baik dari vaksin, sehingga bisa melawan virus dengan menetralisirnya sehingga bisa tidak bergejala atau bahkan sama sekali tidak sakit," jelasnya.

Dia juga membeberkan data klaim perawatan Covid-19 di rumah sakit di periode Mei-Juli 2021, bahwa pasien yang mendapatkan vaksin dosis lengkap bisa terlindungi dari risiko kematian hingga 73 persen dibandingkan yang belum mendapatkan vaksin.

Kemudian pasien yang mendapat vaksin dosis pertama 90 persennya sembuh. “Dari 96 persen yang mendapat vaksin dosis lengkap itu juga sembuh 100 persen dari Covid-19. Smentara yang belum dapat vaksinasi sama sekali itu hanya 84 persen yanh sembuh. Inilah proteksi yang didapatkan dari vaksin,” terangnya.

Meski demikian, vaksin tidak membuat seseorang jadi 100 persen kebal dari Covid-19. Sebab, orang yang telah divaksin masih sangat mungkin untuk terinfeksi virus tersebut. "Prinsip kerja vaksin adalah melatih sistem kelebalan tubuh kita. Oleh karena itu, harus didukung dengan protokol kesehatan," kata Siti Nadia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini