Hari Hepatitis Sedunia 2021, Kenali Dua Hepatitis Paling Berbahaya B dan C

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 28 Juli 2021 18:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 612 2447492 hari-hepatitis-sedunia-2021-kenali-dua-hepatitis-paling-berbahaya-b-dan-c-yiuE9pC1QQ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAIN Covid-19 masih banyak penyakit yang juga berbahaya dan harus segera diobati. Salah satu penyakit yang berbahaya dan juga mudah menular adalah hepatitis, salah satu penyakit berbahaya yang masih terus mengintai manusia.

Dari empat jenis virus hepatitis, hepatitis B dan C lah yang dianggap paling berbahaya karena bisa berakhir kronis yang menimbulkan sirosis hati dan hepatoma.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Indonesia, sebanyak 2,5 juta penduduk terinfeksi hepatitis C. Sementara 18 juta penduduk terinfeksi hepatitis B, dan 50% berisiko menjadi kronis. Tercatat sebanyak 900 ribu pasien hepatitis yang berakhir menjadi sirosis dan kanker hati.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan virus hepatitis memiliki cara penularan yang berbeda. Hepatitis A dan E ditularkan secara fekal dan oral. Sementara hepatitis B, C, dan D ditularkan secara parenteral (sentuhan, cairan, maupun dari jarum).

“Penularan hepatitis B dari ibu ke anak sebesar 90-95%. Sehingga diperlukan pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke anak sejak dini. Salah satunya prioritas deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil,” kata dr. Siti, dalam temu media ‘Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2021’, Rabu (28/07/2021).

Hepatitis

Sebagaimana diketahui saat ini belum ditemukan obat yang efektif untuk menyembuhkan hepatitis B. Namun, hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian vaksin. Adapun cara pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke anak bisa menggunakan sejumlah cara di antaranya:

1. Pemberian Tenofovir pada ibu hamil dengan viral load tinggi

Ibu hamil reaktif HBsAg dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

2. Pemberian Hepatitis B Imunoglobulin

Hepatitis B Imunoglobulin (HBIg) diberikan kepada bayi yang baru lahir dari ibu reaktif HBsAg.

3. Pemeriksaan pada ibu hamil, ANC, dan pemantauan bayi

Semua ibu hamil harus melakukan ANC (Antenatal Care) terpadu dan DDHB (Deteksi Dini Hepatitis B) serta bayinya dilakukan pemantauan.

4. Pemberian HB0 untuk mengurangi transmisi dari ibu ke bayi

Pemberian HB0 <24 jam diberikan wajib kepada semua bayi baru lahir.

5. Pemberian imunisasi hepatitis B (3 dosis) untuk mengurangi insiden

Imunisasi wajib hepatitis B sebanyak tiga dosis diberikan kepada semua bayi.

Sementara itu, pemerintah juga telah melakukan pengendalian virus hepatitis C di Indonesia. Berbeda dengan hepatitis B yang belum ada obatnya, hepatitis C justru bisa diobati. Sayangnya belum ada vaksin yang terbukti ampuh untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis C. Berikut cara mengendalikan virus hepatitis C.

1. Sebelum 2017 pengendalian hepatitis C menggunakan Pegylated Interferon dengan nilai kesembuhan sebesar 50-60% dengan durasi 48 minggu. Sayangnya cara ini membutuhkan biaya yang mahal.

2. Sesudah 2017 pengendalian hepatitis C menggunakan DAA (Direct Acting Antiviral) seperti Simeprevir, Sofosbufir, Ribavirin, Daclastavir, dan Elba-Grazo. Cara ini memiliki nilai kesembuhan yang sangat besar yakni 95% dengan durasi 12-24 minggu. Biaya yang diperlukan untuk terapi ini juga relatif murah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini