Belum Ada Vaksin, Penyakit Hepatitis C Masih Bisa Disembuhkan Kok

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 28 Juli 2021 19:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 28 612 2447514 belum-ada-vaksin-penyakit-c-masih-bisa-disembuhkan-kok-5jY8P8NGUN.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DI masa pandemi Covid-19, hepatitis memang menjadi salah satu penyakit yang tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pasalnya hepatitis juga merupakan penyakit menular sama seperti Covid-19.

Nah, dari 4 jenis virus hepatitis, hepatitis B dan C lah memang menjadi perhatian lebih. Berdasarkan prevalensi global sebanyak 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B, sementara 115 juta orang terinfeksi hepatitis C (2016) dengan kasus tertinggi terjadi di Asia Pasifik dan Afrika.

Mirisnya dari 2 miliar orang yang terinfeksi secara global, 240 juta diantaranya menyebabkan kronis hingga menimbulkan risiko sirosis dan kanker hati. Penyakit ini juga menimbulkan 500-700 ribu kematian per tahun.

Hepatitis

Di Indonesia, sebanyak 2,5 juta penduduk terinfeksi hepatitis C. Sementara 18 juta penduduk terinfeksi hepatitis B, dan 50% berisiko menjadi kronis. Tercatat sebanyak 900 ribu menjadi sirosis dan kanker hati.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan penyakit hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis.

Berdasarkan cara penularannya ada 2 kelompok virus hepatitis yang dibedakan berdasarkan penularannya. Hepatitis A dan E ditularkan secara fekal dan oral. Sementara hepatitis B, C, dan D ditularkan secara parenteral.

“Hepatitis B, C, dan D ditularkan secara parenteral artinya bisa lewat sentuhan, cairan. Penularannya bisa melalui ibu ke anak, tenaga kesehatan yang merawat pasien hepatitis, aktivitas seksual tidak aman, tindik dan tato, penggunaan alat pribadi secara bergantian, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril,” terang dr. Sit, dalam temu media ‘Peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2021’, Rabu (28/07/2021).

Lebih lanjut dr. Siti menjelaskan bahwa secara vertikal, penularan hepatitis B dari ibu ke anak sebesar 90-95%. Oleh sebab itu kegiatan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil harus menjadi prioritas. Selain itu perlu diketahui bahwa hepatitis B sangatlah berbahaya. Sebab saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan hepatitis B.

“Vaksinasi telah menurunkan prevalensi hepatitis B dan saat ini belum ada pengobatan yang efektif. Jika dibiarkan hepatitis B bisa menyebabkan karier kronik seperti sirosis hati dan hepatoma," jelas dia.

"Berbeda dengan hepatitis C yang bisa diobati menggunakan pengobatan DAA (Direct Acting Antiviral) yang memiliki persentase kesembuhan mencapai 95%. Sayangnya hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis C,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini