1 Dekade jadi Desainer Mode, Didiet Maulana Akui Sulit Temukan Penenun Muda

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 29 Juli 2021 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 194 2447982 1-dekade-jadi-desainer-mode-didiet-maulana-akui-sulit-temukan-penenun-muda-jKYSdle7yD.jpg Didiet Maulana (Foto : IG/@didietmaulana)

TAHUN 2021 jadi tahun spesial bagi sosok desainer Indonesia, Didiet Maulana. Sebab, tahun ini adalah tahun dirinya sudah 1 dekade atau 10 tahun menjadi desainer mode yang fokus pada wastra Nusantara seperti tenun ikat, batik dan songket.

Sudah sepuluh tahun menghasilkan karya-karya mulai dari fesyen hingga home living lewat tangan dinginnya, hingga sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu nama desainer papan atas Indonesia yang menjadi langganan banyak selebriti.

Perjalanan Didiet bukan tanpa halangan, seperti orang awam lainnya, desainer berusia 39 tahun juga diwarnai banyak tantangan. Didiet mengaku, dalam berkarya mempromosikan keindahan wastra Nusantara selama ini, ia paling merasa kesulitan menemukan sosok-sosok para pengrajin dan penenun muda.

Didiet Maulana

“Kesulitan pertama, menemukan penenun-penenun baru. Proses regenerasi dari tenun, jadi bagaimana menjadikan ini jadi sesuatu yang legit dan orang-orang percaya ke sana. Bahwa ini bukan pekerjaan yang dikerjakan saat ‘tak ada sawah yang bisa digarap”, tapi memang bisa jadi pekerjaan utama,” ujar Didiet, dalam konferensi pers virtual, Kamis (29/7/2021),

Baca Juga : 10 Tahun Berkarya, Desainer Didiet Maulana Rambah Lini Home and Living

Selanjutnya, desainer kebaya wisuda Maudy Ayunda tersebut mengungkapkan tantangan lain yang ia hadapi selama satu dekade ini memang didominasi dari segi teknis. Seperti ekspansi jumlah produksi dan penyediaan material bahan, contohnya benang yang mirisnya ternyata masih kebanyakan harus diimpor dari luar negeri.

“Ekspand jumlah produksi ya, kita kan dikerjakan handmade dengan tangan. Pandemi gini penenun yang biasanya kerja di workshop tenun ya sekarang enggak bisa, kalau mesin tenunnya kecil jadi dikerjakan di rumah. Lalu bahan mentah kayak benang, masih banyak impor. Kalau bahannya tersedia dari hulu hingga hilir, cost kan bisa ditekan,” tutup Didiet.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini