Ada Varian Delta Plus, IDAI Sebut Anak Jadi Kelompok Paling Berisiko

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 29 Juli 2021 19:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 612 2448066 ada-varian-delta-plus-idai-sebut-anak-jadi-kelompok-paling-berisiko-jqYWVlfxjJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

VARIAN baru Covid-19, Delta Plus, kembali ditemukan masuk ke Indonesia. Memang varian delta menjadi salah satu penyebab tingginya kasus Covid-19.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyebut varian Delta Plus atau dikenal dengan kode B.1.617.2.1 atau AY.1 ditemukan di Jambi dan Mamuju. Secara garis besar ini adalah varian Delta biasa, namun ada mutasi di protein K417N yang dikhawatirkan bisa menghindari sistem imun dan menular lebih cepat.

Tentunya, varian Delta Plus ini harus menjadi perhatian penting terutama pada kelompok anak-anak yang saat ini masih banyak belum divaksin. Ketua Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Eva Devita Harmoniati, SpA(K), menjelaskan bahwa gejala utama yang ditimbulkan oleg varian Delta Plus ini hampir sama dengan virus Delta biasa.

"Delta Plus gejalanya hampir sama, cuman gejalanya batuk kering, perubahan wrna warna pada jari tangan dan kaki, dan ruam kulit. Tapi secara garis besar, sama saja dengan varian Delta biasa,” kata dr. Eva, dalam Media Briefing ‘Suara Anak Tentang Vaksin’, Kamis (29/07/2021).

Meski demikian, dia belum bisa memastikan mengenai klaim varian Delta Plus yang disebut lebih kuat dalam menghindari antibodi sehingga semakin cepat menular kepada manusia.

“Tapi belum ada data yang cukup untuk menyebut apakah varian ini lebih cepat menyebar dan lebih rentan juga menyerang anak-anak. Tapi seandainya pun menyerang lebih cepat, anak-anak adalah kelompok yang berisiko karena vaksin untuk anak di atas 18 tahun dan 12-17 tahun masih belum banyak,” tuntasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini