Mengenal Kanker Nasofaring, Berasal dari Virus dalam Tubuh Setiap Orang

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 31 Juli 2021 20:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 481 2449009 mengenal-kanker-nasofaring-berasal-dari-virus-dalam-tubuh-setiap-orang-2EFTfIV9VE.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

KANKER nasofaring termasuk salah satu kanker leher dan kepala yang banyak menyerang anak dan dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan insiden pada usia di bawah 30 tahun. Faktor risiko kanker nasofaring disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr (EBV), dan hampir 100% kanker nasofaring berhubungan dengan EBV.

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan RSCM, pasien kanker nasofaring pada 2000 menunjukkan, penderita kanker nasofaring pada usia di bawah 30 tahun mencapai 12,9%. Tetapi sejak 2005, meningkat menjadi 23,5%, dan beberapa di antaranya menyerang anak di bawah usia 10 tahun.

Kanker Nasofaring

Departemen THT FKUI/RSCM, dr. Marlinda Adham Sp.THT -KL (K), PhD, mengatakan bahwa Virus Epstein-Barr terdapat pada udara dan kerap dikatakan sebagai everybody virus. Julukan tersebut diberikan karena hampir semua manusia memiliki virus ini. Perlu diingat, meskipun EBV ada dalam tubuh manusia, namun ini tidak selalu bergejala. Virus ini juga tidak menular.

“Tidak perlu khawatir karena tidak selalu EBV menyebabkan kanker. Kanker akan berkembang jika ada faktor risiko lain seperti genetik, paparan lingkungan, gizi buruk, obesitas dan lain-lain. Sering mengalami inflamasi di saluran napas atas juga bisa meningkatkan risiko,” ujar dr. Marlinda, dalam webinar Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Sabtu (31/07/2021).

Baca Juga : Vaksin Sinovac Terbukti Ampuh Cegah Penularan hingga Kematian Akibat Covid-19

Lebih lanjut, dr. Marlinda menyebut bahwa orang dengan ras tertentu seperti Mongolia lebih sering mengalami kanker nasofaring dan kebanyakan menyerang pada anak laki-laki. Tapi pada anak, kanker nasofaring lebih sering ditemukan di atas usia 10 tahun atau menjelang remaja. Kanker nasofaring juga jarang ditemukan pada bayi.

“Mengingat pencegahan sulit dilakukan maka pendekatan terbaik yang bisa dilakukan adalah mengenali gejala sedini mungkin dan segera bawa ke dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat. Sayangnya kebanyakan terdiagnosis di stadium lanjut, stadium 3 dan 4,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini