Metode Penyembuhan Kanker Nasofaring yang Kini Serang Anak di Bawah Usia 10 Tahun

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 01 Agustus 2021 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 481 2449014 metode-penyembuhan-kanker-nasofaring-yang-kini-serang-anak-di-bawah-usia-10-tahun-BiQwaFZTFW.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

KANKER nasofaring menjadi salah satu penyakit harus mendapatkan perhatian khusus. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan RSCM, pasien kanker nasofaring usia di bawah 30 tahun mencapai 12,9% pada tahun 2000. Tetapi sejak 2005, meningkat menjadi 23,5%, dan beberapa di antaranya menyerang anak di bawah usia 10 tahun.

Sebagaimana diketahui, kanker nasofaring merupakan salah satu kanker leher dan kepala. Faktor risiko kanker nasofaring disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr (EBV), dan hampir 100% kanker nasofaring berhubungan dengan EBV. Virus EBV ini hampir ada dalam seluruh tubuh manusia. Meskipun EBV ada dalam tubuh manusia, namun tidak selalu bergejala. Selain itu virus ini juga tidak menular.

Anak Demam

Spesialis Radioterapi dari FKUI/RSCM, Prof. Dr. Soehartati Gondhowiardjo, menjelaskan terapi utama kanker nasofaring pada anak adalah pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Pengobatan di luar tiga modalitas tersebut, terlebih non medis, sangat tidak dianjurkan. Pembedahan biasanya hanya berupa biopsi dan jika terkonfirasi kanker maka akan dilanjutkan dengan kemoterapi, radiasi, atau kombinasi keduanya.

“Radiasi atau radioterapi adalah terapi menggunakan sinar pengion yang bila mengenai materi biologi akan mengalami ionisasi dan kemudian mematikan sel. Radioterapi atau orang awam menyebutnya terapi sinar, pada anak-anak dilakukan dengan teknik khusus. Radioterapi saat ini sudah berkembang sehingga menjadi lebih presisi dan sesuai target,” terang Prof. Soehartati, dalam webinar Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), Sabtu (31/07/2021).

Baca Juga : Mengenal Kanker Nasofaring, Berasal dari Virus dalam Tubuh Setiap Orang

Lebih lanjut, dalam proses radioterapi, hanya daerah yang menjadi target yang akan terkena sinar sehingga tidak merusak jaringan sekitarnya. Dosisnya juga bisa diatur. Selain itu, dengan kemajuan tekanologi, radioterapi bisa dilakukan menjadi lebih singkat. Salah satu tantangan radioterapi pada anak adalah alatnya cukup besar sehingga menakutkan buat anak.

“Untuk membuat pasien anak nyaman, maka dipasang LCV yang memutar film kartun. Jika perlu anak dianestesi selama proses radioterapi. Seperti terapi lainnya, radioterapi juga memiliki efek samping. Namun dengan semakin terarah penyinaran dan dosis dikurangi maka efek sampingnya akan sangat minimal,” lanjutnya.

Efek samping yang sering ditemui setelah menjalani radioterapi ada yang bersifat akut misalnya sariawan dan sakit menelan, sedangkan efek samping jangka panjang berupa gangguan tumbuh kembang, mulut kering, dan risiko munculnya kanker sekunder. Untungnya kanker pada anak sangat radiosensitif, sehingga responnya cukup baik dibandingkan kanker dewasa.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini