Dokter Sebut Orang Terinfeksi Varian Delta Miliki Virus 1.000 Kali Lebih Banyak

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 01 Agustus 2021 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 01 481 2449058 dokter-sebut-orang-terinfeksi-varian-delta-miliki-virus-1-000-kali-lebih-banyak-Pr0b6GRuVd.jpg Ilustrasi Covid-19 Varian Delta. (Foto: Okezone)

PANDEMI covid-19 yang melanda dunia mengharuskan orang-orang menggunakan masker untuk mencegah penularan. Namun, ada beberapa negara yang mengklaim telah berhasil mengatasi covid-19, termasuk Varian Delta, dan membebaskan masyarakatnya kembali hidup normal serta melakukan aktivitas seperti sedia kala.

Salah satu negara yang sempat membebaskan warganya untuk tidak mengenakan masker adalah Amerika Serikat lantaran kasus positif covid-19 sudah menurun dan persentase vaksinasinya sudah sangat tinggi. Tapi belum lama ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) kembali mewajibkan masyarakat untuk mengenakan masker meski sudah divaksin dua dosis.

Baca juga: CDC Sebut Penularan Covid-19 Varian Delta Bisa 'Semudah Cacar Air' 

Menanggapi hal tersebut, influencer kesehatan sekaligus dokter relawan covid-19 Muhamad Fajri Adda'i menegaskan masyarakat Indonesia tidak perlu meniru negara lain. Sebab, negara tersebut belum tentu sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Ia menyatakan covid-19 sendiri terus bermutasi, dan Varian Delta menjadi perhatian dunia, bahkan menyebabkan ledakan kasus di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Ilustrasi Covid-19 Varian Delta. (Foto: Okezone)

"Dunia menghadapi Varian Delta yang >100 persen lebih cepat menular dibanding varian pertama dari Wuhan. Orang yang terinfeksi Varian Delta memiliki jumlah virus 1.000 kali lebih banyak dan masa inkubasinya yang lebih cepat yaitu 4 hari (varian lama 3–14 hari dan rata-rata 7–8 hari)," kata dr Fajri dalam unggahan di akun Instagram-nya @dr.fajriaddai beberapa waktu lalu.

Baca juga: Perjalanan Varian Delta Plus Masuk ke Indonesia 

Saat ini Varian Delta masih diteliti, apakah membuat sakit menjadi lebih berat, atau persebarannya yang lebih cepat ini akan membuat proporsi orang yang dirawat di rumah sakit lebih banyak.

Dalam kesempatan yang sama, dr Fajri juga menjelaskan mengenai mutasi pada tanduk Covid-19 Varian Delta, tepatnya memiliki beberapa perubahan pada subunit S1.

"Di dalamnya ada tiga mutasi pada receptor binding domain (RBD), tempat melekatnya virus pada sel manusia, yang menyebabkan proses infeksi lebih efisien serta dapat menghindari sistem imun," tuntasnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini