Profil Santosa Doellah, Legenda Batik Sekaligus Pendiri Danar Hadi Solo

Hantoro, Jurnalis · Senin 02 Agustus 2021 20:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 02 194 2449827 profil-santosa-doellah-legenda-batik-sekaligus-pendiri-danar-hadi-solo-nHuspIgLJD.jpg Pendiri batik Danar Hadi Solo Santosa Doellah. (Foto: Solopos)

KABAR duka datang dari dunia batik Tanah Air. Santosa Doellah, legenda batik sekaligus pendiri merek batik Danar Hadi Solo, meninggal dunia pada hari ini, Senin 2 Agustus 2021. Ia wafat ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Assistant Marketing Communications Manager PT Batik Danar Hadi Solo, Inou Marcsta Hernawan, mengatakan Santosa Doellah meninggal dunia bukan karena terpapar virus corona atau covid-19. Santosa Doellah wafat dalam usia 79 tahun. Demikian dikutip dari Solopos, Senin (2/8/2021).

Baca juga: Pendiri Batik Danar Hadi Solo Santosa Doellah Meninggal Dunia 

Pemilik nama lengkap H Santosa Doellah SE ini lahir di Kota Solo, Jawa Tengah, pada 7 Desember 1941. Santosa Doellah adalah anak ke-5 dari 10 bersaudara yang lahir dari pasangan Dokter Doellah dan Hj Fatimah Wongsodinomo.

Santosa Doellah pendiri batik Danar Hadi Solo. (Foto: Solopos)

Santosa Doellah merupakan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung. Pada tahun 1967, ia menikah dengan Danarsih Hadipriyono yang juga kelahiran Solo, 26 September 1946.

Baca juga: Ragam Motif Batik Solo dan Maknanya 

Dikutip dari situs resmi Danarhadibatik.com, Santosa Doellah dan istrinya Danarsih Hadipriyono adalah keturunan pengusaha batik. Kakek Santosa Doellah yakni RH Wongsidinomo merupakan pendiri dan pemilik WS Batik di Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Ayah Santosa Doellah adalah seorang dokter dan ia dibesarkan oleh kakek-neneknya. Itu merupakan hal biasa pada zamannya.

Setelah mendapat gelar sarjana ekonomi, di tahun 1967, Santosa Doellah menikahi Danarsih Hadipriyono, anak perempuan dari perajin dan produsen batik yang sukses H Hadipriyono. Keduanya mendirikan sebuah perusahaan yang dinamakan sesuai penggalan dari nama istri Santosa Doellah, Danarsih Hadipriyono.

Dengan menggunakan mori, kain tenun yang digunakan dalam pembuatan batik, yang mereka dapat sebagai hadiah pernikahan, pasangan tersebut mengubah rumahnya menjadi kantor dan sanggar batik, kemudian mereka baru menambahkan toko. Mereka bekerja dari rumah sambil membesarkan keempat anaknya. Santosa sangat pintar dalam hal mendesain batik, sedangkan Danarsih lebih menguasai desain garmen.

Pada tahun 1975, mereka membuka sebuah toko kecil di Jakarta. Kemudian toko Danar Hadi berkembang hingga kota-kota besar di Indonesia seperti Bandung, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang.

Baca juga: Mengenal Sudagaran Solo, Batik yang Dibuat di Luar Keraton 

Danar Hadi sering berkolaborasi dengan desainer ternama Indonesia untuk menciptakan koleksi yang baru dan segar. Lima dekade kemudian, Danar Hadi telah menjadi raksasa bisnis, salah satu dari tiga besar industri batik di Indonesia.

Danar Hadi memulai perjalanannya sebagai industri rumahan yang didorong oleh rasa cinta pemiliknya yang besar terhadap batik. Banyak penyesuaian yang dilakukan untuk dapat memadukan idealisme dengan manajemen modern.

Baca juga: Kampoeng Laweyan, Saksi Sejarah Batik yang Perlahan Mulai Terkikis 

Langkah rasional dan logis juga diperlukan agar hasrat dan pengambilan keputusan perusahaan dapat berjalan beriringan. Danar Hadi sangat siap untuk menghadapi tantangan masa depan dengan tetap berpegang teguh pada akar tradisionalnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini