Anak Terinfeksi Covid-19, Jangan Panik! Lakukan Saran Dokter Ini

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Senin 02 Agustus 2021 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 02 481 2449453 anak-terinfeksi-covid-19-jangan-panik-lakukan-saran-dokter-ini-ZSDx9sYOer.jpg Anak kena Covid-19 (Foto: The ET)

RUPANYA di tengah melonjaknya kasus Covid-19, banyak anak yang terinfeksi Covid-19. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui gejalanya agar dapat segera mencari bantuan medis.

Dokter Agustina, DPPS, Sp.A., dari Siloam Hospitals Palangka Raya mengatakan, orangtua tidak perlu khawatir atau panik jika anak terkena Covid-19. Mengenali gejala dan penanganan secara tepat akan lebih baik tanpa perlu diliputi rasa panik dan khawatir.

 anak kena Covid-19

"Adanya gejala seperti banyak tidur dan napas cepat, terdapat cekungan di dinding dada, saturasi oksigen < 95%, demam lebih dari 7 hari, kejang, sulit makan dan minum, dan bila ada penurunan kesadaran, maka segera bawa anak ke Rumah Sakit," ujar Dokter Agustina, Senin, (2/8/2021).

Rasa khawatir orangtua, terang dia, merupakan hal normal. Apalagi, pada anak usia balita, mereka masih belum bisa mengkomunikasikan apa saja yang mereka rasakan.

"Karenanya, segera mengenali gejala yang timbul sejak awal seperti yang saya sampaikan tadi, merupakan hal tepat sebelum memberikan pertolongan lanjutan," kata Dokter Agustina.

Menurut Dokter Agustina, terdapat beberapa tanda dan gejala Covid-19 pada anak-anak. Di antaranya yaitu demam, sakit kepala, gejala saluran napas seperti batuk, kehilangan rasa atau bau, sesak napas, sakit tenggorokan, hidung tersumbat disertai pilek, nyeri otot, bisa juga berupa gejala saluran cerna seperti mual atau muntah, diare, sakit perut, nafsu makan buruk, terutama pada bayi dibawah 1 tahun.

Resiko tinggi anak terpapar Covid-19 terutama tertular dari orangtuanya yang pulang bekerja, tertular dari klaster keluarga, terbatasnya akses deteksi dini, dan anak bermain tanpa protol kesehatan.

"Untuk itu bagi orangtua sebaiknya hindarilah membawa anak keluar rumah, kecuali darurat", kata Dokter Agustina mengingatkan.

Bagi orangtua dapat menerapkan isolasi mandiri pada anak, dengan syarat yang perlu diperhatikan seperti, tidak bergejala/Asimtomatik, gejala ringan (batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam), anak masih aktif, bisa makan dan minum, menerapkan etika batuk, memantau gejala/keluhan, pemeriksaan suhu tubuh 2 kali sehari saat pagi dan malam, dan lingkungan rumah/kamar memiliki ventilasi yang baik.

"Namun perlu diperhatikan dalam penerapan isoman bahwa orangtua dapat tetap mengasuh anak yang positif, disarankan yang beresiko rendah, jika ada orangtua atau anggota keluarga yang positif, maka dapat diisolasi bersama disarankan berikan jarak tidur 2 meter dengan kasur terpisah. Dan tetap berikan dukungan psikologis pada anak," imbuh Dokter Agustina.

Selama kegiatan isolasi mandiri, protokol kesehatan tetap dilakukan, yaitu gunakan masker, jaga jarak, cuci tangan, menerapkan etika batuk, periksa suhu tubuh pada pagi dan malam hari, periksa saturasi oksigen dan frekuensi nadi, pantau laju napas, tetap berikan ASI pada bayi, dan berikan makanan bergizi pada anak.

Siapkan juga beberapa alat dirumah seperti termometer dan oxymeter, obat demam seperti paracetamol, suplemen yang dianjurkan berupa vitamin C, vitamin D3 dan Zinc.

Setelah selesai isolasi, umumnya gejala akan hilang dalam 14 hari. Namun dianjurkan melakukan pemeriksaan swab ulang 10-14 hari setelah swab pertama positif. Bila tidak bisa melakukan pemeriksaan swab, maka disarankan isolasi selama 10 hari +3 hari setelah bebas gejala.

Pada penderita dengan gejala berat atau pasien kronik, umumnya masa menular lebih panjang, sehingga dokter yang akan menentukan kapan selesai isolasi.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini