Treatment Antibodi Covid-19 Pertama untuk Pasien Tak Vaksin Disahkan FDA

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 03 Agustus 2021 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 612 2450270 treatment-antibodi-covid-19-pertama-untuk-pasien-tak-vaksin-disahkan-fda-2slRFSCddG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MEMANG tidak semua orang bisa atau memenuhi persyaratan untuk dapat menerima vaksin Covid-19. Orang-orang tersebut akan masuk pada kelompok orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah atau high risk alias risiko tinggi terpapar Covid-19.

Tapi kini, orang-orang yang berisiko besar terkena Covid-19 yang parah dan kelompok orang dengan sistem kekebalan yang terganggu khususnya di Amerika, saat ini disebutkan memiliki pilihan untuk menerima pengobatan antibodi monoklonal preventif.

Mengutip NBC News, Selasa (3/8/2021) Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) dilaporkan merilis izin untuk treatment antibodi Covid-19 sebagai tindakan pencegahan bagi orang-orang dengan gangguan sistem imun.

Biasanya, mereka yang memiliki penyakit autoimun, pasien HIV, pasien kanker dan penerima transplantasi organ, masih rentan terhadap Covid-19 bahkan setelah divaksinasi full. Treatment ini disebut sebagai pengobatan antibodi coronavirus suntik yang pertama kalinya disetujui untuk digunakan sebagai pencegahan Covid-19 setelah seseorang terpapar virus.

Dokter Myron Cohen, peneliti antibodi virus corona terkemuka dan salah satu peneliti di balik studi REGEN-COV sebagai pencegahan, mengatakan bahwa treatment antibodi monoklonal melindungi terhadap penyakit parah dengan mengatasi infeksi virus corona saat masih ada yang kebanyakan masih ada di hidung dan tenggorokan.

"Ini adalah perlombaan antara kemampuan tubuh kita untuk membuat antibodi untuk melindungi paru-paru dan seluruh tubuh Anda d'an virus dan jika Anda kemungkinan besar akan kalah dalam perlombaan ini, Anda adalah orang yang cocok untuk obat antibodi ini, ujar Dr.Myron Cohen.

Meski sudah mengeluarkan izin kedaruratannya, FDA dalam pernyataannya menyebutkan, mereka mengeluarkan otorisasi darurat yang diperluas dengan catatan bahwa antibodi monoklonal tidak boleh dianggap sebagai pengganti vaksinasi Covid-19. FDA mendesak bagi semua orang yang memenuhi syarat vaksinasi untuk tetap divaksinasi.

Treatment antibodi monoklonal ini sendiri, dikatakan bisa membantu mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian. Namun penggunaan obat-obatan tersebut tetap harus dibatasi karena biasanya harus diberikan melalui infus IV dan perlu diberikan dalam waktu 10 hari setelah gejala Covid-19 muncul.

Dengan izin darurat dari FDA, koktail antibodi Regeneron dapat diberikan sebagai suntikan dan dosis pertama harus diberikan dalam waktu 96 jam setelah terpapar virus. Izin otorisasi yang diperluas FDA ini disebutkan lebih lanjut, didasarkan pada hasil uji klinis besar dari koktail Regeneron yang mengandung antibodi monoklonal casirivimab dan imdevimab.

Para peserta penelitiian yang tinggal di Amerika Serikat, Rumania, dan Moldova, adalah orang-orang yang dites positif Covid-19 dalam empat hari sebelumnya. Kemudian para peserta secara acak dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama menerima suntikan tunggal di bawah kulit koktail Regeneron dan kelompok kedua adalah plasebo.

Di antara 1.505 orang peserta yang awalnya dites negatif, 7,8 persen dari mereka yang menerima suntikan antibodi mengembangkan gejala Covid dalam kurun waktu empat pekan dibandingkan dengan hanya 1,5 persen dari kelompok plasebo, pengurangan risiko 81 persen. Untuk orang yang mengalami gejala, antibodi membantu untuk membersihkan virus corona lebih cepat dan mengurangi berapa lama gejala Covid-19 nya bertahan.

Dari 204 orang peserta yang positif terinfeksi Covid-19 tapi tak bergejala, suntikan antibodi mengurangi resiko gejala Covid-19 berkembang hingga 32 persen selama empat minggu ke depan. Tidak ada peserta penelitian yang menerima suntikan antibodi ini berakhir dirawat di ruang gawat darurat atau dirawat di rumah sakit, dibandingkan dengan 10 orang yang menerima plasebo.

Hanya ada beberapa orang immunocompromised dalam penelitian ini. Namun demikian, FDA telah mengidentifikasi anggota demografi ini sebagai kandidat untuk pengobatan pencegahan. Untuk kategori kelompok lainnya, termasuk orang-orang yang berisiko tinggi terpapar orang yang terinfeksi di tempat kerja, di panti jompo atau penjara.

Individu yang diperkirakan akan terus terpapar virus dari kontak dekat dapat menerima dosis suntikan koktail antibodi ini berulang setiap bulan. Tapi dengan syarat dari FDA, yakni orang tersebut tidak divaksin Covid-19, orang dengan masalah sistem imun (immunocompromised), berisiko tinggi Covid-19 parah, dan orang yang harus telah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang telah dites positif untuk menerima perawatan pencegahan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini