Curhat Keluarga Pasien Covid-19: Cari Donor Plasma Konvalesen Luar Biasa Sulit

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 04 Agustus 2021 12:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 04 612 2450694 curhat-keluarga-pasien-covid-19-cari-donor-plasma-konvalesen-luar-biasa-sulit-81TNUtgvPk.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAMA pandemi Covid-19, salah satu yang juga sering kita dapatkan diforwardkan adalah kebutuhan akan plasma darah konvalesen. Banyak keluarga pasien kerap membuat permintaan di media sosial, hingga menggunakan koneksi untuk mencari plasma darah.

Tingginya kasus positif Covid-19 tentu saja membuat kebutuhan akan plasma darah semakin meningkat. Akibatnya, sangat sulit mendapatkan plasma darah konvalesen tersebut.

Salah satu yang merasakan sulitnya mendapat donor plasma adalah Nursyawal yang tengah memantau kondisi adiknya, Nurkhalis, yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit di Kota Bandung pada Juli lalu.

Awalnya, dokter memintanya mencari plasma darah konvalesen.karena Nurkhalis mengalami gejala kategori sedang akibat terpapar Covid 19. Pihak rumah sakit mengarahkannya ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung, tapi tetap saja dosen komunikasi sebuah perguruan tinggi swasta itu mengaku kebingungan.

Dia tidak memiliki informasi yang cukup tentang donor plasma konvalesen. Kepalanya dipenuhi pertanyaan, ke mana harus mencari calon pendonor, bagaimana proses donor, dan apakah stoknya ada.

Nursyawal merasa "seperti berenang di kegelapan." Di saat bersamaan, ia harus berkejaran dengan waktu mengingat kondisi adiknya yang dikhawatirkan memburuk. Saat dia mendatangi kantor PMI Kota Bandung, pencari dan calon pendonor plasma konvalesen memadati ruangan.

"Di PMI kondisinya, waduh, rupanya banyak orang yang juga memohon. Beberapa yang saya tanya, ada yang sedang menunggu, ada yang sedang memastikan [donor]," katanya.

"Ruang tunggunya kecil. [Orang] yang sedang menunggu kepastian, harusnya dipindahkan lagi ke ruangan lain. Tapi saya memaklumi karena kondisinya betul-betul luar biasa," ujar Nursyawal mengisahkan.

Sesuai dugaannya, PMI Kota Bandung menyatakan stok plasma konvalesen kosong. Nursyawal disarankan mencari calon pendonor sendiri.

Sejak itulah, Nursyawal mulai menyebarkan permohonan plasma konvalesen di berbagai WhatsApp grup, media sosial, dan situs yang mengkoordinir para penyintas Covid-19.

Tak ada yang membuahkan hasil. Nursyawal menyebutnya, seperti melempar botol berisi kertas ke lautan, lalu dibiarkan mengapung. "Entah kapan sampainya, entah siapa yang mau membalasnya," kata dia.

"Pada akhirnya yang lebih efektif kami dapatkan adalah dari jaringan lingkaran keluarga dan lingkaran rekan kerja dari pasien. Itu lebih cepat, karena informasinya lebih terarah dibandingkan yang tadi [lewat media sosial]," ungkapnya.

Nursyawal akhirnya berhasil mendapatkan 16 calon pendonor, namun hanya enam orang yang lolos skrining. Proses skrining pun tidak mudah, memakan waktu dua hingga tiga hari. Tapi karena banyaknya permohonan, kata Nursyawal, proses skrining bisa molor sampai tujuh hari lamanya. Lantaran darurat, Nursyawal mengaku terpaksa "memotong antrian" dengan mengandalkan koneksi.

"Memang ada kemudahan, tidak semua keluarga [bisa] begini. Tapi saya juga tidak bisa mengatakan ini pola yang bisa ditiru oleh orang banyak karena ini menggunakan jalur lain yang tidak prosedural. Akhirnya kita bisa dapat sehari selesai skrining," aku Nursyawal.

Plasma konvalesen untuk sang adik, Nurkhalis, baru bisa ditransfusikan tiga hari kemudian. Pada saat itu, semua telah terlambat. "Pasiennya sudah memburuk terus. Kondisi pasien tidak pernah dikomunikasikan kepada kami. Yang kami tahu saturasi terus menurun, tidak membaik juga," kata Nursyawal.

Nurkhalis menghembuskan napas terakhir di pertengahan Juli 2021, setelah lima hari dirawat di ruang perawatan intensif.

Bagi Nursyawal, tidak ada penyesalan atas kepergian adiknya. Namun dia menyesalkan ketidakhadiran negara di tengah warga yang sedang berjuang sembuh, khususnya dalam pencarian plasma konvalesen.

Menurutnya, negara sebagai pihak yang menguasai data para penyintas Covid-19, semestinya memanfaatkan data tersebut dengan membuat sistem yang memudahkan pencarian calon donor plasma konvalesen. Sistem itu, kata Nursyawal, akan sangat membantu keluarga pasien mencari donor.

"Padahal kalau datanya ada, PMI tinggal menghubungi orang yang sembuh. Karena tidak ada datanya, kami [seperti] berenang di ruangan gelap, mencari-cari — mungkin ketemu, mungkin enggak; mungkin cepat, mungkin lambat. Kami semua mengurus sendiri. Padahal kita tahu, banyak orang yang sembuh menurut perhitungan," kata Nursyawal.

Berbeda dengan Ayu Citra, 32 tahun yang memiliki nasib lebih baik. Ayu mengaku kebingungan saat dokter yang merawat kakaknya, Bagus Djoko, meminta plasma konvalesen lantaran paru-paru kakaknya mengalami perburukan.

Sama seperti Nursyawal, Ayu mengaku bingung harus mencari ke mana, apalagi saat kakaknya terpapar Covid-19 di Januari 2021, kasus Covid-19 sedang naik dan banyak pasien yang membutuhkan plasma konvalesen.

"Saat itu nge-blank, bingung juga... ada tidak ya, yang mau donor karena kasus Covid [tinggi] kan pasti masih ada yang membutuhkan [plasma konvalesen]. Dan saat itu hiruk-pikuk di PMI karena banyak banget yang mencari plasma konvalesen," kisah Ayu.

Sementara, lanjut Ayu, persyaratan untuk menjadi donor plasma konvalesen juga susah. Di antaranya, maksimal terinfeksi Covid-19 tiga bulan lalu dan dinyatakan sudah sembuh di 14 hari terakhir. "Sepertinya susah banget mencari [donor] plasma konvalesen, saya sudah nge-blank saja pikirannya," tukas Ayu.

Ayu kemudian menghubungi PMI Kota Bandung, kota tempat tinggalnya. Beruntung, PMI memiliki stok satu labu plasma konvalesen yang sesuai dengan golongan darah kakaknya. Namun ini masih kurang, karena kakaknya butuh dua labu.

Ayu kemudian memulai pencarian dengan menyebarkan pengumuman di media sosial. Tidak hanya itu, Ayu juga mencari plasma konvalesen ke PMI di luar Kota Bandung, seperti Cirebon, Karawang, dan Jakarta.

Selang sehari setelah diumumkan di media sosial, Ayu mendapat respon dari sejumlah relawan. Ada tiga relawan penyintas Covid-19 yang bersedia mendonorkan darahnya, hanya satu yang lolos skrining. Harapan Ayu sempat menipis, terlebih lagi kakaknya memilih pasrah seiring kondisi paru-parunya yang memburuk.

"Kondisi saat itu [rasanya] campur aduk. Penginmenangis melihat kakak sesak, sampai dia bilang, sudah enggak usah cari, sudah pasrah," kenang Ayu.

"Semua keluarga bergerak untuk membantu sharing [pengumuman mencari plasma konvalesen di media sosial]. Puji Tuhan, ada saja orang baik yang membantu," ujarnya.

Harapan Ayu bertumpu pada satu relawan yang akhirnya bisa memberikan satu labu plasma konvalesen yang dibutuhkan. Pada 2 Februari 2021, labu kedua berhasil ditransfusikan ke tubuh Bagus Djoko, yang merespon dengan baik plasma tersebut.

"Setelah diberi plasma yang pertama, dua hari kemudian paru-parunya di-rontgen sama dokter, sudah mulai pulih. Makanya dikasih satu labu lagi," kata Ayu.

Saat ini, Ayu menyebutkan, kakaknya sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti semula.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini