Terungkap 5 Alasan Orang Ragu Datang ke Psikolog

Antara, Jurnalis · Kamis 05 Agustus 2021 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 05 481 2451205 terungkap-5-alasan-orang-ragu-datang-ke-psikolog-nvO7IgyHHQ.jpg Ilustrasi konsultasi dengan psikolog. (Foto: Pexels)

TERUNGKAP banyak orang masih ragu datang ke psikolog untuk mengatasi masalah gangguan mental yang diderita. Padahal berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan, prevalensi penderita depresi di Indonesia sebesar 6,1 persen pada 2018. Angka tersebut meningkat pada 2021, terutama dengan adanya pandemi covid-19 yang membuat masyarakat lebih mungkin untuk terkena gangguan mental.

Namun, masih ada orang-orang yang enggan pergi ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai gangguan mental yang dimiliki. Berikut lima alasan mengapa seseorang ragu berkonsultasi ke psikolog, seperti dikutip dari Antara, Kamis (5/8/2021).

Baca juga: Psikolog: Breaktime saat Pandemi Covid-19 Bisa Jaga Kesehatan Mental 

1. Stigma sosial dalam masyarakat

Sejak lama masyarakat Indonesia menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang tabu. Kebanyakan dari mereka tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain sebagai seseorang dengan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

"Gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu, bukan pula aib, sama seperti saat fisik kita kalau sedang terluka, capek, kadang butuh istirahat, butuh treatment yang tepat sesuai dengan kebutuhannya saat itu mungkin istirahat mungkin olahraga. Begitu juga dengan kesehatan mental diperlukan treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya," kata psikolog Della Nova Nusantara MPsi.

Meski mulai berkurang di kalangan milenial dan Gen Z, stigma sosial masih dapat ditemukan, karena melepaskan pemikiran kolektif yang telah tertanam sejak lama itu bukan merupakan hal yang mudah.

Ilustrasi konsultasi dengan psikolog.

2. Ketakutan tersendiri

Bagi sebagian orang, pergi ke psikolog adalah keputusan yang besar. Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, "Apa saya terlalu berlebihan ya?" dan "Bagaimana kalau psikolog-nya tidak membantu saya?"

Ketika Anda mulai meragukan diri sendiri dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, yakinlah bahwa mencoba untuk pergi ke psikolog itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Menemukan psikolog yang cocok memang butuh waktu, tetapi setidaknya Anda akan berada selangkah lebih dekat dengan mengetahui apa yang terjadi dalam diri agar dapat membaik.

Baca juga: Psikolog Sebut Artis Pakai Sabu Tak Hanya Ingin Fit 

3. Kurangnya pemahaman kesehatan mental

Otomatis, anggapan bahwa gangguan mental itu tabu menandakan kesadaran orang Indonesia yang masih rendah tentang kesehatan mental. Biasanya hal ini ditunjukkan dengan orang-orang yang menyepelekan gangguan mental, karena tidak bisa dilihat secara gamblang layaknya penyakit fisik.

Kenyataannya, penyakit mental dan fisik sama-sama menimbulkan rasa sakit kepada penderitanya. Bahkan dalam beberapa kasus, penyakit mental lebih mungkin untuk mengancam nyawa seseorang.

4. Banyaknya biaya yang harus dikeluarkan

Selain keterbatasan akses psikolog, faktor biaya juga harus dipertimbangkan. BPJS kesehatan bisa memberikan akses psikolog di rumah sakit terdekat. Jika memiliki asuransi atau BPJS kesehatan, Anda bisa mencoba mencari tahu apakah rumah sakit terdekat bisa menawarkan layanan psikolog yang ditanggung asuransi.

Baca juga: Ciptakan Kehidupan Harmonis, Ini Cara Bangun Kedekatan Keluarga Menurut Psikolog 

5. Minimnya akses psikolog

Menurut Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), jumlah psikolog klinis yang ada saat ini adalah 3.232 yang terpusat di Pulau Jawa. Jumlah ini bisa dibilang sedikit dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki 106.500 psikolog. Aplikasi konseling psikologi daring bisa membantu masyarakat untuk mengakses layanan psikologi tanpa harus keluar rumah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini