Obat Covid-19 Bisa Tercampur di ASI, Amankan Ibu Positif Menyusui Bayinya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 05 Agustus 2021 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 05 612 2451360 obat-covid-19-bisa-tercampur-di-asi-amankan-ibu-positif-menyusui-bayinya-tAx7Y1sM4U.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

WORLD Health Organization (WHO) memang menyarankan ibu menyusui tetap memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayinya, meskipun mereka terpapar Covid-19. Tapi, imbauan ini hanya berlaku untuk pasien yang tengah menjalani isolasi mandiri, bukan yang tengah dirawat.

Meski begitu, tetap saja para ibu ragu memberikan ASI ke bayinya secara langsung ketika terpapar Covid-19. Kekhawatiran si bayi terpapar karena jarak yang begitu dekat menjadi alasan utamanya.

Padahal, ahli kesehatan sudah banyak yang mengatakan bahwa meski risiko itu memang ada, tapi si ibu bisa menurunkan risiko dengan ketat menjalankan protokol kesehatan. ASI tetap menjadi pilihan utama asupan bagi bayi 6 bulan pertama. Tidak bisa digantikan.

Namun, keraguan berikutnya yang dirasakan para ibu menyusui terpapar Covid-19 adalah apakah kualitas ASI akan berkurang jika mereka mengonsumsi obat dan vitamin yang diresepkan dokter?

Pertanyaan itu sangat logis sekali, karena apapun yang dikonsumsi si ibu sedikitnya memberi dampak pada kualitas ASI yang diminum bayi. Tapi, apakah benar kualitas ASI berkurang atau terkontaminasi oleh obat-obatan dan vitamin dalam masa pemulihan infeksi Covid-19?

Dokter Umum Konselor Laktasi RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr Nia Wulan Sari, CIMI, menjawab bahwa sebagian besar obat-obatan dan vitamin yang dikonsumsi selagi penyembuhan Covid-19 aman untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui.

"Obat seperti oseltamivir dan favipiravir dalam bentuk terhidroksilasi memang ditemukan terdistribusi dalam ASI. Namun, metabolit aktif oseltamivir hanya terdeteksi pada ASI dalam jumlah minimal," katanya dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal, belum lama ini.

Oseltamivir sendiri dapat digunakan pada ibu menyusui apabila potensi manfaat yang didapat oleh ibu melebihi potensi risiko paparan obat terhadap bayi.

Dokter Nia melanjutkan, belum ada penelitian lebih lanjut terkait penggunaan favipiravir pada manusia yang melibatkan wanita hamil dan menyusui. Karenanya, penggunaan favipiravir tidak dianjurkan pada ibu menyusui. "Masih belum diketahui apakah metabolit acetylcysteine berada di dalam ASI, sehingga penggunaan untuk ibu menyusui harus mempertimbangkan dengan matang manfaat dan risikonya," ujarnya.

Ia pun menyarankan agar para ibu menyusui yang terpapar Covid-19 sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mempertimbangkan manfaat dan efek samping sebelum ibu menyusui mengonsumsi obat-obatan tersebut. "Daya tahan tubuh bayi yang baru lahir memang belum terbentuk sempurna, karenanya bayi masih memerlukan ASI sebagai nutrisi penting pertamanya," terangnya.

Dokter Nia menambahkan, ibu menyusui dan bayi juga sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah guna menghindari tertular virus penyebab Covid-19.

"Dukungan dan perlindungan dari keluarga dan tenaga kesehatan untuk ibu menyusui dapat menyukseskan pemberian ASI eksklusif, demi mengoptimalkan kesehatan si kecil di masa pandemi. Ingat, banyaknya manfaat menyusui jauh melebihi potensi risiko penularan dan penyakit yang terkait dengan Covid-19," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini