Tren Giveaway Para Influencer Ternyata Punya Dampak Buruk Psikologis Loh

Antara, Jurnalis · Jum'at 13 Agustus 2021 03:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 13 612 2454866 tren-giveaway-para-influencer-ternyata-punya-dampak-buruk-psikologis-loh-xrmLyur9zi.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TREN berbagai memang tengah dilakukan banyak orang, terutama pada influencer. Banyak influencer kerap berbagi atau yang kerap disebut sebagai give away, dengan memberikan syarat pada para followersnya.

Biasanya, syarat tersebut tidak sulit hanya dengan menjadi bagian dari kegiatan atau memberikan komentar. Terbaru dan cukup membuat heboh adalah tren giveaway dari Arief Muhammad yang dia sebut ikoy-ikoyan.

Ikoy-Ikoyan sendiri adalah sebutan untuk hadiah yang diberikan kepada para followers yang mengirim DM maupun komentar unik dan lucu di akun Instagram influencer tersebut.

Namun belakangan ini, tren ikoy-ikoyan tersebut pun semakin ramai dan tersebar. Pasalnya, masyarakat pun tak hanya meminta 'hadiah' kepada Arief Muhammad melainkan beberapa artis maupun influencer.

Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto menilai tren aksi "ikoy-ikoyan" yang dipopulerkan oleh Arief Muhammad di media sosial bisa menimbulkan efek kebiasaan, di mana setiap kesulitan diatasi dengan meminta bantuan kepada orang lain tanpa adanya usaha terlebih dahulu.

Sosmed

Oleh sebab itu, tren tersebut harus disikapi dengan bijak.

"Berbagi pada dasarnya adalah hal yang baik sebagai makhluk sosial. Namun kita sudah diajarkan sejak kecil bahwa kita tidak seharusnya memamerkan hal tersebut," kata Kasandra.

Menurutnya, giveaway ini bisa saja menjadi bagian dari strategi marketing. "Sebagai imbal jasa atas apa yang dilakukan orang lain, ada yang membuat menjadi tenar, menambah followers dan membangun image positif dan atau membeli kesetiaan," katanya memberikan contoh.

Menurut Kasandra, tren 'ikoy-ikoyan' itu tergantung dari motif dan cara untuk melakukannya. Sebab, hal ini akan merefleksikan profil psikologis, baik intelegensi dan kepribadian seseorang. "Dengan meyakini prinsip law of attraction, kita akan memetik apa yang kita tanamkan. Berbagi karena pamrih, atau memang karena mengasihi sesama," ujarnya.

Selain Kasandra, Psikolog dan founder dari Klinik Psikologi Ruang Tubuh Irma Gustiana A, M.Psi mengatakan bahwa sebaiknya tren ini tidak menjadi kebiasaan di masyarakat.

"Tapi ini enggak boleh jadi kebiasaan sih sebenarnya ya. Jadi artinya kalau memang si influencer atau selebgram ingin menolong ya menolonglah dengan cara yang mungkin proporsional, yang tepat, sehingga tidak salah sasaran," kata Irma.

Irma menjelaskan, tren ini mungkin tidak menimbulkan gejala-gejala yang berisiko mengalami gangguan mental. Namun, hal ini dapat menurunkan karakter seseorang.

"Jadi kalau misalnya dia sekali terus dikasih, besokannya ah nyoba lagi nih sama siapa gitu kan. Terus ternyata mungkin direspon juga. Nanti kan lama-lama jadi kebiasaan," jelas dia.

"Dan kemudian mental seseorang ini bukan jadi mental yang tangguh gitu. Karena dia merasa bahwa meminta pada seseorang itu adalah jalan keluar," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini