HUT Ke-76 RI, Mengenal Batik Tulis Peranakan Simbol Hubungan Erat Tionghoa-Jawa

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 194 2456659 hut-ke-76-ri-mengenal-batik-tulis-peranakan-simbol-hubungan-erat-tionghoa-jawa-F82WLieSXK.jpg Batik tulis peranakan Oey Soe Tjun di Pekalongan. (Foto: BBC)

Balas Budi ke Orangtua

Apa yang dilakukan Widia, yakni meneruskan usaha yang dibangun kakeknya, lalu ayahnya, tak semata untuk mencari uang. Meski satu kain bisa dihargai mahal, proses pembuatannya yang bertahun-tahun, membuat "perputaran uangnya susah untuk kehidupan dapur," kata Widia.

Batik memang tidak jadi penghasilan utama karena Widia dan suaminya mengandalkan toko sembakonya untuk itu. Widia bercerita, awalnya dia tak mau meneruskan usaha itu. Namun, beban meneruskan nama Batik Oey Soe Tjoen tiba-tiba jatuh ke pundaknya 20 tahun silam.

Bagi keluarga Tionghoa, meneruskan usaha keluarga bukan hal aneh, tapi bagi Widia hal itu tetap terasa berat. Saat itu di usianya yang 26 tahun, rencananya adalah mengejar gelar magister manajemen, bukan menjadi penerus usaha keluarga.

Saat usianya SMA, Widia pernah melontarkan ketidaksukaannya pada batik keluarganya yang berdiri sejak 1925 dan sejak itu laris di kalangan para kolektor.

"Saya pernah bertanya, bagusnya tuh apa sampai orang mati-matian pengin punya batik OST (Oey Soe Tjoen)? Padahal kalau saya pribadi, enggak suka."

Namun, "utang keluarga" yakni beberapa pesanan batik yang belum selesai harus ditunaikan. Widia pun terpaksa banting setir. Demi apa yang disebutnya "balas budi pada orangtua", ia memilih pasrah pada takdir yang menuntunnya menjadi penerus Batik Oey.

"Saya punya komitmen, jangan sampai kebesaran Oey Soe Tjoen itu hancur di tangan saya. Jadi, saya berusaha, sekeras apa pun, saya tidak menghancurkan apa yang dimulai oleh papa atau kakek," kata Widia.

Baca juga: HUT Ke-76 RI, Orangtua Bisa Ajarkan Anak Keberagaman Lewat Lomba di Rumah Aja 

Batik tulis peranakan Oey Soe Tjun di Pekalongan. (Foto: BBC)

Pembatik adalah Senior

Namun, komitmen Widia bisa jadi tinggal komitmen karena ia tak paham proses pembuatan batik. Sepuluh warisan resep pewarnaan batik tinggalan ayahnya, misalnya, membuatnya bingung.

Tanpa tuntunan dari para pembatik, usaha Widia mungkin tak berlanjut sampai saat ini.Para pembatik kebanyakan perempuan-perempuan Jawa yang piawai melukis di kain dengan canting.

"Saya bilang kepada mereka (para pembatik), 'Tolong bekerja, anggap papa itu ada.' Dari situ saya melihat bagaimana mereka bekerja. Jadi, saya menganggap bahwa saya itu karyawan, pembatik adalah senior. Saya yang belajar dengan mereka sebagai bawahan," ujar Widia.

Dengan berkali-kali trial and error, ia mencoba membuat kain Oey hingga dirasanya "sempurna" hingga saat ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini