Potret Khalida Popal, Eks Kapten Bola Wanita Afghanistan yang Minta Bantuan Perlindungan

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 20 Agustus 2021 00:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 19 612 2458142 potret-khalida-popal-eks-kapten-bola-wanita-afghanistan-yang-minta-bantuan-perlindungan-f2Oro06lrv.jpg Khalida Popal (Foto : Instagram/@khalidagirlpower)

EKS kapten Timnas Sepakbola Wanita Afghanistan, Khalida Popal, meminta perlindungan untuk perempuan-perempuan di negaranya saat Taliban kembali berkuasa.

Pada 1996 sampai 2001, hak perempuan Afghanistan terbatas. Taliban pernah melarang wanita dan anak-anak perempuan bekerja dan bersekolah juga meminta mereka mengenakan burqa.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Khalida Popal? Berikut potretnya dari akun Instagram pribadinya @khalidagirlpower, Kamis (19/8/2021).

Mantan kapten timnas bola wanita Afganistan

Khalida Popal

Khalida Popal merupakan mantan kapten timnas sepak bola wanita di Afghanistan. Ia mengawali karirnya sebagai pemain bola. Baru-baru ini, ia mengungkap ketakutannya bahwa Taliban akan menyerang para anggota timnas bola dan berusaha menghancurkan sejarah mereka.

Mendapat suaka di Denmark

Khalida Popal

Khalida sempat kabur dari Kabul pada 1996 setelah Taliban menguasai wilayah itu. Ia mendapat suaka di Denmark sejak 2016. Meski kini tinggal di Denmark, Khalida tidak pernah meninggalkan sepak bola atau Afghanistan.

Memanfaatkan media sosial untuk speak up

Khalida Popal

Khalida juga meminta para anggota timnas memanfaatkan media sosial untuk melaporkan apa yang terjadi di Afghanistan kepada dunia. Ia sering membantu mengungkap kekerasan, ancaman kematian, hingga pemerkosaan yang terjadi dalam federasi di sana.

Putus asa dengan keadaan negerinya

Khalida Popal

Wanita itu pun kini ikut putus asa jika timnas bola wanita Afghanistan tidak bisa bermain lagi. Mereka punya banyak pertanyaan dan merasa apa yang terjadi saat ini bukanlah suatu keadilan.

"Negaraku Afghanistan runtuh. Negara ini diambil alih oleh kelompok teroris ekstremis bernama Taliban. Pemerintah menyerah. Pengumuman dibuat bahwa perempuan dan anak perempuan tidak diperbolehkan untuk bekerja dan belajar. Semua prestasi dan pengorbanan memudar," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini