Kemenkes: Hoaks Terkait Vaksin Ada 1.300, Jadi Tantangan Sosialisasi

Antara, Jurnalis · Selasa 24 Agustus 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 481 2460054 kemenkes-hoaks-terkait-vaksin-ada-1-300-jadi-tantangan-sosialisasi-X8J43oMRIW.jpg Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. (Foto: YouTube Sekretariat Presiden)

TANTANGAN terbesar terkait sosialisasi, edukasi, dan percepatan vaksinasi adalah penyebaran hoaks dan misinformasi terkait vaksin serta covid-19. Demikian diungkapkan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi.

"Kendala terbesarnya adalah misinformasi dan hoaks. Seiring dengan informasi yang kita berikan, hoaks dan misinformasi juga makin banyak. Saat ini informasi salah atau hoaks terkait vaksin ada 1.300. Ini adalah sebuah tantangan," kata Siti Nadia dalam jumpa pers daring, Senin 23 Agustus 2021, seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: Menkes Imbau Tidak Pilih-Pilih Vaksin Covid-19, Semua Manfaatnya Sama 

Lebih lanjut ia mengatakan hoaks dan misinformasi muncul secara timbul-tenggelam. Menurut dia, ini adalah tantangan utama dan penting bagi masyarakat untuk lebih jeli serta kritis dalam menerima hingga menyebarkan sebuah informasi.

"Ini adalah tantangan utama agar masyarakat mau cek beritanya hoaks atau tidak," kata Siti Nadia.

Ilustrasi hoaks terkait vaksin covid-19. (Foto: Okezone)

Ia melanjutkan, isu yang paling banyak diangkat dalam narasi hoaks terkait vaksinasi adalah mengenai efek samping. "Misalnya setelah vaksin malah menjadi lumpuh, meninggal dunia, sampai tubuh tertanam chip, dan lainnya," ungkap dia.

Baca juga: Laman Kemenkes Diperbarui, Kini Bisa Cek Stok Vaksin Covid-19 

"Kalau (hoaks/misinformasi) terkait covid-19 banyak sekali, terutama soal obat-obatan covid-19 dan setelah vaksinasi seperti air kelapa, susu kaleng, minyak kayu putih, dan lainnya. Ada juga soal covid-19 adalah penyakit seperti flu dan tidak perlu masker. Ini misleading jika kemudian masyarakat membaca hal tersebut," imbuhnya.

Hoaks dan informasi salah tersebut, lanjut Siti Nadia, dapat menciptakan keraguan masyarakat untuk mengikuti vaksinasi. "Ini membuat masyarakat ragu-ragu, karena edukasi dan sosialisasi yang belum sampai dan tidak tahu harus bertanya ke mana," katanya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini