Belajar dari Deddy Corbuzier, Waspada Demam Minggu Kedua Covid-19 Bisa Sebabkan kematian!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 24 Agustus 2021 12:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 612 2460218 belajar-dari-deddy-corbuzier-waspada-demam-minggu-kedua-covid-19-bisa-sebabkan-kematian-02W8m7A7Oo.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETELAH menghilang dari media sosial dan podcast, Deddy Corbuzier mengejutkan publik dengan statementnya hampir meninggal karena terkena Covid-19. Pasalnya, saat itu dia mengalami badai sitokin dan paru-parunya rusak hingga 60 persen.

Selama sakit tersebut, dia pun dipantau ketat oleh Dokter Gunawan setelah berada di masa kritis ketika demam minggu kedua. Menurut dokter Gunawan jika minggu kedua masih demam, ada kemungkinan terjadi peradangan dalam tubuh yang lebih luas dari yang pertama dan kemungkinan pasien mengalami badai sitokin.

Istilah tersebut memang dikenal sebagai 'second-week crash'. Banyak dokter melaporkan keparahan pasien mulai terjadi di momen ini. Karena itu, situasi ini mesti ditangani dengan benar agar bisa menyelamatkan nyawa pasien Covid-19.

Menjadi pertanyaan sekarang mengapa demam minggu kedua Covid-19 itu bisa mematikan?

Menurut laporan The Washington Post, ada sedikit konsensus di antara dokter dan ahli tentang mengapa demam hari kelima hingga kesepuluh tampak sangat berbahaya bagi pasien Covid-19.

Deddy Corbuzier

Ebbing Lautenbach, kepala divisi penyakit menular di fakultas Kedokteran Perelman University of Pennsylvania, berspekulasi bahwa 'second-week crash' berbahaya karena adanya pengaruh gen individu, efek virus pada jaringan paru-paru, imun yang terlalu aktif, pembekuan darah, hingga dampak dari penggunaan ventilator yang digunakan.

Lebih lanjut, menurut Naftali Kaminski, kepala perawatan kritis paru dan obat tidur di Yale School of Medicine yang mempelajari genomik penyakit paru-paru menyatakan bahwa demam minggu kedua Covid-19 berbahaya karena pengaruh tahap awal virus masuk dan menginfeksi.

"Jadi, dapat digambarkan virus yang sudah ada dalam tubuh dan menginfeksi, terus mendorong lebih banyak sel untuk membiarkan masuk dan terus menginfeksi lebih parah lagi," terangnya, dikutip MNC Portal, Selasa (24/8/2021).

"Karena sifat virus yang terus menginfeksi, ini memengaruhi susunan genetik dan kondisi yang ada sebelumnya dan membuat presentasi penyakit meningkat," tambahnya.

Di laporan ini pun diterangkan bahwa ada spesifikasi pasien Covid-19 yang dikhawatirkan mengalami kondisi 'second-week crash', yaitu pasien Covid-19 tanpa gejala seperti penurunan kadar oksigen, sesak napas, atau kondisi kritis lainnya, dan pasien Covid-19 kondisi parah yang terlambat mendapatkan pertolongan karena masalah menunggu terlalu lama untuk dapat ICU bed.

"Orang-orang yang kritis ini sebenarnya sudah lama sakit," papar Merceditas Villanueva, seorang profesor kedokteran di Yale School of Medicine.

"Jadi, mereka meremehkan gejala ringan atau mereka memang terlambat mendapatkan ICU bed," tegasnya.

Di sisi lain, seorang dokter paru dan perawatan kritis di Ronald Reagan UCLA Medical Center di Los Angeles, Russell G. Buhr, menerangkan bahwa keparahan pasien Covid-19 di 'second-week crash' terjadi karena sel-sel baik di paru-parunya dibunuh virus yang membuat paru-paru pasien tetap terbuka dan menyebabkan pertukaran oksigen dan karbondioksida tidak berjalan baik.

"Jadi, paru-paru menyebarkan karbon dioksida ke tubuh dan ini yang menyebabkan peradangan semakin serius," ungkapnya.

Buhr menambahkan, situasi demam minggu kedua Covid-19 juga dapat memperburuk kondisi pasien Covid-19 karena penggunaan ventilator terutama di rumah sakit yang kewalahan. Maksudnya, dokter di rumah sakit itu tidak dapat memkasimalkan penggunaan alat dan malah memaksa oksigen masuk ke paru-paru.

"Terlalu banyak tekanan pada paru-paru yang tegang dapat menghasilkan lebih banyak respons peradangan terhadap virus corona dan ini memperburuk penyumbatan kantung udara yang disebut alveoli," papar Buhr.

"Perawatan orang yang kritis itu sangat rumit. Ventilator tidak bekerja seperti obat. Menyesuaikan ventilator membutuhkan banyak upaya langsung dan ini menjadi masalah ketika rumah sakit kewalahan menangani pasien," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini