Ini Kesalahan Berjemur Sinar Matahari yang Sering Terjadi Selama Pandemi

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 28 Agustus 2021 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 28 612 2462460 ini-kesalahan-berjemur-sinar-matahari-yang-sering-terjadi-selama-pandemi-JgIMUFQadi.jpg Ilustrasi berjemur sinar matahari. (Foto: Shutterstock)

RUTIN berjemur di bawah sinar matahari bagus untuk kesehatan tulang. Tetapi ternyata ada efek sampingnya untuk kulit jika tidak memerhatikan durasi dan waktu berjemur yang tepat. Salah satu dampak buruknya mengalami sunburn atau kulit terbakar sinar matahari.

Dokter spesialis kulit dan kelamin dari Universitas Indonesia (UI) Susie Rendra SpKK FINSDV mengatakan sunburn yang kasusnya lebih banyak di masa pandemi covid-19 saat ini terjadi akibat berjemur yang berlebihan.

Baca juga: Peneliti India Buktikan Vitamin D Tak Beri Kekebalan pada Covid-19 

"Banyak pasien merasa butuh vitamin D dosis tinggi berpikir makin lama berjemur akan makin baik. Iya, tetapi selama tidak terjadi sunburn, yang ditandai kulit menjadi merah, nyeri, terasa panas dan gatal bila disentuh, serta pada beberapa pasien muncul secara cepat dalam hitungan jam, kulit kering," ungkapnya dalam diskusi media, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (28/8/2021).

Ilustrasi berjemur sinar matahari. (Foto: Shutterstock)

Bila sudah telanjur muncul masalah sunburn, mengoleskan pelembap kulit bisa menjadi pertolongan pertama. Menurut dr Susie, Anda sebaiknya tidak mengaplikasikanya terlalu tipis demi mengurangi gatal dan kering. Tetapi, apabila pertolongan ini tak juga membantu, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Dalam beberapa kasus, berjemur yang berlebihan juga bisa menimbulkan lenting-lenting air di kulit dan ini membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Di sisi lain, untuk sebagian orang, berjemur juga dapat memunculkan kelainan kulit akibat pajanan sinar matahari antara lain ruam khususnya pada mereka yang kulitnya sensitif. Ruam ini biasanya muncul dalam bentuk titik-titik kemerahan, terasa gatal dan lebih sering berada pada area tidak tertutup pakaian seperti lengan atau daerah leher.

Baca juga: Cegah Kanker Kulit, Yuk Pakai Tabir Surya yanng Sesuai 

Jadi, harus bagaimana agar berjemur tak justru berdampak buruk bagi kulit? Dokter Susie menyarankan Anda mengatur waktu dan lama jemur. Anda bisa mempertimbangkan UV indeks yang salah satunya bisa ditemukan di ponsel pintar Anda untuk mengetahui waktu berjemur yang aman.

"Saya biasanya di antara 5 dan 6, itu UV indeks relatif aman, 15–30 menit. Harus setiap hari? Tidak, kadang-kadang 3 kali seminggu cukup," jelasnya.

Sesuaikan juga waktu berjemur dengan durasinya. Apabila Anda bisa berjemur pada waktu pagi misalnya pukul 08.00 atau 09.00, maka lama berjemur bisa 15–30 menit. Tetapi bila baru bisa melakukannya pukul 11.00 atau 12.00, maka 5 menit berjemur sudah cukup.

Mengenai bagian yang sebaiknya terekspos sinar matahari, menurut dr Susie cukup area tangan, lengan, dan tungkai saja. Ini artinya, Anda tidak mesti mengekspose seluruh area tubuh seperti halnya bayi saat berjemur.

Baca juga: Tak Hanya dari Sinar Matahari, Vitamin D Ada di 3 Makanan Ini 

"Enggak perlu satu badan. Area lain yang tidak mau terkena efek buruk seperti muka, bisa pakai tabir surya. Boleh area mana saja tetapi kalau perempuan biasanya memilih punggung ketimbang bagian depan," kata dia.

Usai berjemur, apabila ada keringat yang muncul atau tubuh terasa panas, tunggulah beberapa saat sebelum Anda mandi dengan air bersuhu normal (air keran).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini