Kisah Inspiratif Duwi Wahyuni Berdayakan Perempuan, Dari Uang Jajan Jadi Lapangan Pekerjaan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 31 Agustus 2021 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 30 612 2463389 kisah-inspiratif-duwi-wahyuni-berdayakan-perempuan-dari-uang-jajan-jadi-lapangan-pekerjaan-gmwhfQZlkC.jpg Duwi Wahyuni (Foto : IG Duwi Wahyuni)

TAK ada yang lebih membahagiakan ketika bisa memberi makna pada kehidupan orang lain. Hal ini yang sepertinya dianut Duwi Wahyuni, perempuan muda asal Samarinda yang sukses memberdayakan wanita.

Ya, sebagai pengusaha muda, Yuni, sapaan akrabnya, merasa bahwa apa yang dikerjakannya bisa menjadi berkah karena dapat membantu kehidupan orang lain, terutama para perempuan. Bahkan, sebanyak 46 reseller dari seluruh Indonesia sudah ia kelola.

"Banyak orang terbantu dengan bisnis yang saya buat. Beberapa dari para perempuan itu bahkan mengaku sudah bisa beli rumah dari pekerjaan yang saya ciptakan," kata Yuni pada MNC Portal Indonesia, Selasa (31/8/2021).

Duwi Wahyuni

Siapa sebenarnya Duwi Wahyuni?

Duwi Wahyuni ialah perempuan muda kelahiran 10 Mei 1992. Lulusan Kebidanan ini memiliki usaha di bidang skincare dan kosmetik. Berbekal sekolah estetika di Surabaya, ia memberanikan untuk memiliki brand sendiri.

"Seorang dokter memberitahu saya untuk sekolah estetika agar bisa membuat produk skincare sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk ambil sekolah itu dan setelah lulus, baru kemudian brand BD Yuni Esteticare lahir," paparnya.

Baca Juga : Viral Detik-Detik Fotografer Cantik Kabur dari Afghanistan: Selamat Tinggal Tanah Airku..

Yuni yang awalnya bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Samarinda kemudian banting stir menjadi pengusaha skincare. Semua terjadi bukan tanpa alasan, kecintaannya pada produk skincare dan kosmetik membuatnya sangat mencintai bidang bisnis tersebut.

Duwi Wahyuni

"Passion saya memang di bidang kecantikan dan estetika, khususnya di produk skincare dan kosmetik. Karena sudah jadi passion, saya begitu semangat dalam bekerja enggak gampang menyerah saat ada masalah," tuturnya menceritakan masa lalu.

Salah satu masalah yang cukup membuatnya 'down' adalah saat ditegur Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Setiap produk skincare dan kosmetik itu harus memiliki nomor BPOM dan di awal-awal merintis, saya belum begitu paham dan dengan passion yang saya miliki, persyaratan BPOM saya bisa penuhi dan sekarang nomor BPOM itu sudah saya pegang," paparnya.

Bagaimana awal cerita bisnis ini?

Bisnis yang hebat memiliki akar yang kuat. Mungkin penggambaran itu pas diberikan untuk bisnis yang dikelola Duwi Wahyuni.

Ya, awal dari semua ini bermula dari Yuni suka mengumpulkan uang jajan semasa kuliah. Sampai akhirnya dia punya keinginan untuk menjalankan bisnis di akhir perkuliahan kebidanan pada 2012.

"Awalnya hanya usaha kecil-kecilan. Berbekal 11 juta, saya menjual produk skincare dan kosmetik ke teman-teman dan masyarakat di Samarinda. Tak terduga, barang jualan saya laku dan akhirnya diputuskan untuk terus menjalani usaha kecil-kecilan itu sampai lulus kuliah hingga kerja di rumah sakit," ungkapnya.

Berjalannya waktu, usaha sampingan pemilik akun Instagram @yunieadiwidjaya pun banyak pelanggan. Saat itulah dirinya kepikiran untuk membuat brand sendiri. "Jadi, awalnya enggak langsung membuat brand sendiri, semua bermula dari usaha kecil-kecilan dulu," ungkapnya dengan bangga.

Bertahan di masa pandemi

Duwi Wahyuni

Yuni menerangkan bahwa pandemi Covid-19 memang memberi dampak pada seluruh lini kehidupan, tak termasuk bisnisnya. Namun, pengusaha muda yang kini menjajal bisnis 'coffee shop' bernama Success Coffee tersebut tetap optimis. Ini tentu bisa memberi kekuatan pada pengusaha lain yang cukup terdampak bisnisnya.

"Saya yakin, produk dari BD Yuni Estetica dan Bderma Beauty tetap dapat diterima masyarakat di tengah pandemi karena produk skincare dan kosmetik itu sudah jadi barang pokok bagi para perempuan dan demand-nya tidak berkurang," ujarnya.

Namun, ada satu poin penting yang dicatat Yuni. "Demand-nya memang tidak berkurang tapi cara transaksinya berubah menjadi online. Alhasil, strategi marketingnya harus difokuskan pada digital," lanjutnya.

"Saya optimis karena saya lihat yang berubah itu cara belinya saja yang menjadi online. Dulu di awal pandemi memang penjualan sempat turun sampai 50%, tapi kalau sekarang Alhamdulillah sudah stabil lagi karena sudah ketemu strategi yang pas dengan bisnis saya," tambah Yuni.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini