Share

Kenali Gejala Anak Sumbing, Hindari Gangguan Sosial Sejak Dini

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Kamis 02 September 2021 08:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 481 2464775 kenali-gejala-anak-sumbing-hindari-gangguan-sosial-sejak-dini-xVQY3aKHj8.jpg Ilustrasi. (Foto: Parents)

SPESIALIS Bedah Plastik yang juga Ketua Yayasan Dewi Kasih dr. Ulfa Elfiah, M.Kes, SpBP-RE(K) mengungkapkan, setiap hari ada 540 anak yang terlahir dengan kondisi bibir sumbing dan atau celah langit-langit di dunia. Bila tak ditangani segera, maka dampaknya berkepanjangan bagi fisik maupun psikologi anak.

"Di Jember saja, rasio angka pasien bibir sumbing mencapai 1:1.000 pada tahun 2019. Angka ini mencerminkan bahwa butuh perhatian khusus dan serius agar tercipta kemudahan akses untuk mendapatkan penanganan bibir sumbing secara komprehensif, baik dari sebelum, saat, hingga sesudah operasi," ujarnya saat webinar Merdeka Senyum dengan Operasi Bibir Sumbing.

 Bibir

Dijelaskan lebih lanjut, kondisi bibir sumbing dan celah langit-langit ini adalah salah satu bentuk kelainan daerah kraniofasial (tulang kepala dan tulang wajah). Ditandai dengan adanya celah pada bibir, gusi, dan langit-langit akibat gangguan fusi (fusion) pada masa kandungan.

Faktor genetik punya peran penting 30 persen terjadinya bibir sumbing. Maka tak heran kalau ada keluarga, yang mana adik dan kakak bisa mengalami bibir sumbing. Ditambah juga dengan faktor gizi yang mempengaruhi.

"Setelah dianalisa di Jember juga, angka pestisida tidak pakai pelindung sangat tinggi, dan ini mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur tidur tidak bagus membentuk konsepsi," terangnya.

Fokus terpenting jika anak mengalami bibir sumbing adalah penanganannya. Jika tidak segera ditangani, bibir sumbing dapat menyebabkan komplikasi masalah seperti kesulitan makan, bernapas, mendengar, berbicara, serta meningkatnya risiko malnutrisi, dan bahkan gangguan psikologis.

"Yang paling kita perhatikan lakukan penanganan di usia 3 bulan, anak belum mengerti. Jadi dia belum bisa bicara dan tidak mengalami gangguan sosial," bebernya.

"Ketika anak mulai biacara dan baru dilakukan tindakan operasi tidak ada perbedaan. Secara fisik tidak ada perbedaan dengan teman-temannya, wahjah murung dan tidak bisa bahagia, maka dia menganggap ada kecacatan," lanjutnya.

Karena itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jember ini meminta kepada masyarakat agar semakin aware untuk berperan aktif mencegah bibir sumbing.

"Apalagi sekarang sudah banyak pihak yang menyediakan operasi dan perawatan gratis, sehingga akses pun menjadi lebih luas dan terbuka," tambah dia.

Sementara itu, dituturkan Ruth Monalisa, Perwakilan Smile Train Indonesia. bibir sumbing atau celah langit-langit mulut bukanlah aib. Melainkan kondisi fisik yang sangat bisa diperbaiki.

"Sekarang banyak pihak yang memberikan perawatan sumbing, termasuk di Jawa Timur. Trennya sendiri keluarga pasien confident lakukan operasi plastik," ucapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini