Share

Cerita Penghulu Jenaka asal Malang: Calon Pengantin Batal Nikah Gara-Gara Maskawin

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 02 September 2021 13:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 02 612 2465030 cerita-penghulu-jenaka-asal-malang-calon-pengantin-batal-nikah-gara-gara-maskawin-GJPh6pBjLh.jpg Batal nikah (Foto: The Mirror)

RUPANYA banyak kisah menarik yang dialami Anas Fauzi, penghulu jenaka yang viral asal Malang selama bertugas.

Pria yang kini menjadi penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Lowokwaru, Kota Malang telah hampir bertugas 12 tahun jadi penghulu

Anas menuturkan, sebelum bertugas di Kota Malang, ia terlebih dahulu bertugas di sejumlah kecamatan di Kabupaten Malang. Setidaknya enam kecamatan yang pernah menjadi lokasi tugasnya sejak 2009, dengan menampilkan nasehat pernikahan jenaka.

 Anas

"Jadi penghulu 12 tahun silam sudah seperti itu, penghulu pertama tahun 2009 bertugas di Singosari, kemudian menjadi penghulu di Kromengan, terus Gondanglegi, Poncokusumo, Pujon, Ngantang, tahun 0217 saya tugas di Lowokwaru. Gayanya sama, modelnya sama," ungkap Anas, ditemui Indonesia, di rumahnya, Malang, pada Rabu malam (1/9/2021).

Pria yang kini tengah menempuh pendidikan doktor di Pendidikan Islam Multikultural Universitas Islam Malang (Unisma) mengingat ada calon pengantin yang batal menikah, hanya karena persoalan maskawin.

"Gegeran (pertengkaran) antara calon manten (pengantin) putra dengan calon mertuanya tengkar, gara-gara maskawin sebab maskawin susah diucap. Makanya kalau mau ngasih maskawin itu jangan yang susah diucap," terangnya.

"Yang mengantar dan menyebut bukan dirinya wali, kesulitan ngucap, akhirnya pegel (kesal) monting (pusing), akhirnya nggak jadi nikah. Kayak gitu ada, pernah," imbuh pria Pengasuh Ponpes Ar Rozzaq, Desa Slamperejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini.

Makanya Anas berpesan, agar para calon pengantin baru seharusnya memberikan mahar atau maskawin yang sederhana, dan tidak terlalu rumit diucapkan. Mengingat maskawin bukan dibuat gaya-gayaan, melainkan sesuatu hal yang sesuai kekuatan sang calon mempelai.

"Bahagia bukan karena jenis maskawin, kaya bukan karena gayanya maskawin, bahagia itu Insya Allah karena hidup jujur, suami jujur istri bahagia, bukan karena maskawin, mau maskawin air minum segelas boleh, yang penting harus diberikan dan harus disesuaikan dengan kekuatannya," paparnya.

Di sisi lain, ada pesan pernikahan yang disampaikan juga kerap kali membuat calon pengantin dan pihak keluarga bersedih, lantaran ingat orang tua.

"Mengingat mendiang orang tua menjadi menangis itu biasa, ya biasa saja, tetap ada," ucapnya.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini