Curhatan Rachel Vennya Alami Perundungan Viral, Psikolog: Pembully Biasanya Orang yang Butuh Pertolongan

Siska Permata Sari, Jurnalis · Senin 06 September 2021 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 06 612 2467000 curhatan-rachel-vennya-alami-perundungan-viral-psikolog-pembully-biasanya-orang-yang-butuh-pertolongan-7TlZf0Zmhs.jpg Rachel Vennya (Foto ; Instagram/@rachelvennya)

BARU-baru ini selebgram Rachel Vennya membeberkan curhatan pilunya sebagai korban bullying di sebuah forum online. Dia mengunungkapkan, berbagai komentar-komentar miring telah dialamatkan padanya sejak tahun 2018 silam.

Selain Rachel Vennya, sejumlah selebriti hingga selebgram lain pun turut merasakan hal yang sama. Dampak bullying yang dirasakan mereka pun bermacam-macam, ada yang marah, sedih, hingga sampai depresi dan ingin mengakhiri hidup.

Rachel Vennya

Melihat fenomena ini, Psikolog Klinis Meity Arianty mengatakan, orang-orang yang menjadi pelaku bullying seperti itu kemungkinan membutuhkan pertolongan. Sebab, para pelaku bullying biasanya adalah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

“Orang-orang yang suka membully, suka merendahkan orang lain, mencaci-maki, dan menyakiti orang lain biasanya tidak punya kerjaan, tidak bahagia dengan hidupnya, dan memiliki luka batin,” kata Meity kepada MNC Portal, Senin (6/9/2021).

Baca Juga : Rachel Vennya Curhat, Kerap Dibully Warganet di Forum Online

Pelaku bullying, kata dia, bisa jadi pula merupakan seorang yang dulunya pernah menjadi korban, sehingga dia melampiaskannya kepada orang lain, bahkan orang yang tidak dikenalnya di media sosial.

“Biasanya, pelaku adalah orang yang sebelumnya pernah jadi korban. Itu sebabnya aku bilang, bahwa orang-orang yang seperti itu harus dikasihani karena sebenarnya mereka butuh pertolongan, mereka enggak tahu bagaimana harus mengurus dirinya sehingga sibuk mengurusi orang lain namun enggak pada tempatnya,” ujarnya.

Untuk mengatasi para pelaku bullying di media sosial, melaporkannya ke ranah hukum dapat menjadi opsi, meskipun tidak 100 persen efektif.

“Faktanya, kita enggak bisa kontrol orang lain. Mau diladeni sampai kapan? Hilang satu, tumbuh seribu dan akan selalu begitu. Namun, jika mau membuang waktu, tenaga dan uang, laporkan dan proses secara hukum untuk memberikan efek jera, minimal netizen bisa lebih hati-hati dan menahan diri, walau ini tidak 100 persen efektif,” jelasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini