Benarkah Sembelit Gejala Covid-19?

Wilda Fajriah, Jurnalis · Selasa 07 September 2021 18:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 481 2467485 benarkah-sembelit-gejala-covid-19-2DgsazYFXK.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

KEBANYAKAN orang yang terkena Covid-19 memiliki gejala ringan atau sedang, tetapi beberapa orang, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, menjadi sakit parah.

Sembelit biasanya bukan gejala Covid-19, tetapi mungkin dalam beberapa kasus. Faktor-faktor seperti obat-obatan, perubahan pola makan, perubahan bakteri usus, dan perubahan aktivitas fisik semuanya dapat berkontribusi pada perkembangannya.

Sembelit bukanlah gejala khas Covid-19, tetapi Covid-19 dapat menyebabkan sembelit bagi sebagian orang baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sakit Perut

Melansir Healthline, sebuah studi kasus yang diterbitkan pada Mei 2020 menggambarkan seorang pria dengan Covid-19 yang datang ke rumah sakit dengan demam, batuk, mual, sembelit, dan sakit perut.

Pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT) menunjukkan bahwa ia menderita ileus kolon, yaitu ketika otot-otot usus berhenti berkontraksi.

Baca Juga : 5 Potret Terbaru Bowo TikTok yang Makin Ganteng, Disebut Mirip Iqbaal Ramadhan!

Sebuah studi yang diterbitkan pada Juni 2020 melaporkan sejumlah orang dengan Covid-19 dirawat di rumah sakit di Iran dengan berbagai gejala gastrointestinal (GI) termasuk sembelit.

Para peneliti telah menemukan bahwa mikrobioma usus orang dengan Covid-19 yang keluar dari rumah sakit berbeda dari mikrobioma usus pada populasi umum. Diperkirakan perubahan ini dapat menyebabkan gejala GI.

 Dalam sebuah studi pada 2021, para peneliti memeriksa terapi potensial untuk mengobati Covid-19. Mereka mencatat sembelit sebagai efek samping dari obat famotidine dan bevacizumab.

Obat-obatan lopinavir, ribavirin, dan beberapa obat imunomodulator juga dapat menyebabkan sembelit pada orang dengan Covid-19.

Meskipun Covid-19 biasanya tidak menyebabkan sembelit, faktor lain yang terkait dengan infeksi dapat menyebabkannya secara tidak langsung. Kurangnya aktivitas fisik dari perintah tinggal di rumah dan karantina dapat menyebabkan apa yang dikenal sebagai "sembelit karantina."

Saat Anda berhenti aktif atau mengurangi aktivitas Anda, usus Anda tidak mendorong tinja dengan efisien. Peningkatan waktu yang dihabiskan untuk duduk juga dapat menekan usus besar Anda dan berkontribusi terhadap sembelit.

Perubahan pola makan, peningkatan tingkat stres, dan perubahan hidrasi juga dapat menyebabkan sembelit jika Anda lebih sering tinggal di rumah.

Berolahraga di rumah, menemukan cara untuk menghilangkan stres Anda, terus makan makanan yang sehat, dan tetap terhidrasi semuanya dapat membantu meringankan gejala Anda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini