Jadi Perdebatan Dokter Tirta dan Deddy Corbuzier, Nikotin atau Tar Lebih Berbahaya Mana?

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 07 September 2021 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 481 2467590 jadi-perdebatan-dokter-tirta-dan-deddy-corbuzier-nikotin-atau-tar-lebih-berbahaya-mana-KjDp02fZRJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TERNYATA banyak kesalahan yang dilakukan perokok selama pandemi Covid-19. Salah satunya saat merokok, mereka tetap memakai masker di dagu.

Hal ini membuat masker terpapar asap rokok yang membahayakan kesehatan. Menurut dr Tirta, jika dilakukan setiap hari risikonya bisa berdampak pada kesehatan.

"Kalau merokok masker jangan di dagu, masukin kantong saja. Ini kesalahan orang yang perokok ya, kalau memang tidak bisa berhenti merokok, maskernya jangan di dagu. Maskernya simpen kantong lalu merokok tidak apa," kata dr Tirta di Podcast Deddy Corbuzier.

"Selain karena masker akan berbau rokok, masker juga akan terkena bakteri dan virus yang banyak. Jangut kita ini baketerinya lebih banyak. Sementara untuk kantong, karena di dalam maka akan lebih bersih," tambah dia.

Belum lagi, dr Tirta mengatakan, orang yang merokok kemungkinan Covid-19 lebih tinggi, dua kali lipat karena paru-parunya sudah banyak radang. Hal ini lantaran adanya kandungan tar di dalam rokok.

Bagi para perokok, istilah nikotin maupun TAR (total aerosol residue) tentunya tidak asing karena dua zat itu tercantum pada kemasan rokok.

 rokok

Namun, mungkin saja belum banyak perokok yang memahami perbedaan antara nikotin dan TAR, serta dampaknya bagi kesehatan.

Dikutip dari Antara, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US FDA) menyebut nikotin merupakan senyawa kimia alami yang terkandung dalam tanaman tembakau. Kendati demikian, nikotin dalam jumlah kecil juga bisa ditemui pada kentang, terung, dan kembang kol. 

Nikotin adalah salah satu menyebabkan orang kecanduan merokok karena adanya zat alkaloid menimbulkan adiksi. Contoh zat alkaloid lainnya adalah kafein yang biasa ditemukan pada kopi, tein dalam teh, teobromin pada buah maupun biji cokelat.

Selain itu, semua produk tembakau mengandung nikotin, termasuk rokok, produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, cerutu, maupun snus (tembakau bubuk).

FDA menekankan, meskipun nikotin menyebabkan adiksi atau kecanduan, namun nikotin bukanlah penyebab utama berbagai penyakit terkait merokok. Sebab, dalam sebatang rokok yang dihisap terkandung ribuan bahan kimia beracun, salah satu yang paling berbahaya adalah TAR.

TAR adalah zat kimia dan partikel padat (solid carbon) yang dihasilkan saat rokok dibakar.

Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Dari sekitar 7.000 bahan kimia yang ada di dalam asap rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

Ketika asap rokok dihirup, TAR membentuk lapisan lengket di bagian dalam paru-paru yang dapat menutupi bahkan mematikan sel yang ada di sana. Hal itu dapat menyebabkan kanker paru-paru, emfisema, atau masalah paru-paru lainnya.

TAR yang berwarna cokelat juga menodai gigi dan kuku perokok.

"Orang-orang merokok untuk nikotin, tapi mereka mati karena TAR,” kata Michael Russel pencetus konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini