Alasan Asma yang Menyerang saat Malam Hari Jadi Sangat Buruk

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 08 September 2021 14:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 481 2468108 alasan-asma-yang-menyerang-saat-malam-hari-jadi-sangat-buruk-cd1xS3kQtB.jpg Asma (Foto: Times of India)

TELAH banyak laporan dari pasien asma yang mengatakan bahwa ketika asma muncul di malam hari, kondisinya bisa jadi sangat buruk.

Kemunculan di malam hari memperburuk asma yang dimiliki si pasien. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dan apakah itu benar di mata medis?

Menurut laporan Times of India, para peneliti menemukan pengaruh sistem sirkadian sebagai alasan, bukan bagaimana Anda tidur pun aktivitas fisik sebelum tidur semata yang selama ini dipercayai.

 asma

Jadi, sebanyak 75 persen penderita asma melaporkan bahwa mereka mengalami asma parah yang memburuk di malam hari.

Peneliti pun mencatat beberapa faktor yang dapat dikaitkan dengan kondisi tidak nyaman tersebut. Mulai dari olahraga yang dilakukan sebelum tidur, suhu udara, postur tubuh, dan lingkungan tidur itu sendiri dan itu semua memengaruhi keparahan asma.

Dari studi yang dikerjakan oleh Brigham and Women's Hospital dan Oregon Health and Science University, peneliti ingin memahami kontribusi sistem sirkadian internal terhadap masalah ini.

Sistem sirkadian sendiri terdiri dari alat pacu jantung sentral di otak (nukleus suprachiasmatic) dan 'waktu tubuh', dan sangat penting untuk koordinasi fungsi tubuh serta mengantisipasi tuntutan lingkungan dan perilaku keseharian.

"Ini adalah salah satu studi pertama yang secara hati-hati mengisolasi pengaruh sistem sirkadian dari faktor-faktor lain yang bersifat perilaku dan lingkungan, termasuk tidur itu sendiri," kata Frank AJL Scheer, Direktur Program Kronobiologi Medis di Divisi Gangguan Tidur dan Sirkadian di Brigham.

Bagaimana peneliti menerangkan secara singkat temuan mereka?

"Jadi, mereka menjelaskan bahwa orang dengan asma yang parah secara umum adalah mereka yang menderita penurunan fungsi paru akibat sistem sirkadiannya buruk di malam hari. Mereka juga memiliki perubahan dalam perilaku tidurnya dan ini mempengaruhi kondisi asma saat kambuh di malam hari," kata Steven A. Shea, Profesor dan Direktur di Oregon Institute of Occupational Health Sciences.

Studi yang hasilnya dipublikasi di The Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut melibatkan 17 peserta dengan asma.

Secara khusus peneliti memilih orang dengan asma yang tidak mengonsumsi obat steroid, melainkan menggunakan inhaler bronkodilator setiap kali asmanya kambuh.

Dari 17 peserta tersebut, mereka dicatat bagaimana fungsi parunya dan gejala asma terakhir kali, pun seperti apa penggunaan bronkodilatornya. Semua data dicatat oleh peneliti dalam dua jenis protokol laboratorium yang berbeda.

Dalam protokol 'rutin konstan', peserta menghabiskan 38 jam terus menerus terjaga atau tidak tidur dan lampu kamar redup. Pola makan sebelum tidur pun diatur yaitu camilan diberikan per 2 jam.

Dalam protokol 'desinkronisasi paksa', peserta ditempatkan pada siklus tidur atau bangun 28 jam berulang selama seminggu dalam kondisi cahaya redup, dengan semua rutinitas dijadwalkan secara merata di seluruh siklus.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini