Psikolog: Salah Besar Anggap Korban Pelecehan Baperan!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 09 September 2021 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 09 612 2468762 psikolog-salah-besar-anggap-korban-pelecehan-baperan-BGgV0NtMmn.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

APAKAH Anda pernah ada di situasi ketika seseorang mencoba menghibur tapi dengan melakukan pelecehan dalam bentuk apapun, lalu Anda tidak suka akan 'lelucon' tersebut, dan mereka lantang berkata 'Dasar baperan!'?

Jangan pernah merasa bersalah dengan perasaan yang Anda rasakan itu. Komentar 'baperan' yang dilayangkan ke Anda itu adalah suatu kesalahan yang valid. Sebab, tidak bisa kemudian suatu lecehan dalam bentuk apapun dianggap sebagai lelucon.

"Bercanda tidak bisa dinormalisasikan sebagai alasan melakukan pelecehan dalam bentuk apapun. Sikap menganggap korban pelecehan baperan malah akan membuat orang menyepelekan pelecehan itu sendiri," terang Psikolog Klinis Meity Arianty pada MNC Portal, Rabu (8/9/2021).

Korban Pelecehan

"Kalau Anda menganggap lecehan adalah lelucon dan menilai korban harusnya tidak usah baperan, maka lakukan apa yang Anda perbuat ke korban untuk diri Anda sendiri dan rasakan bagaimana efeknya," lanjut Mei.

Baca Juga : Ini Langkah yang Bisa Dilakukan untuk Bantu Korban Kekerasan Seksual

Jika akhirnya Anda menganggap hal itu biasa saja, kata Mei, maka pernyataan itu hanya untuk Anda. "Tidak boleh apa yang Anda percayai, Anda paksakan ke orang lain," tegasnya.

Baca Juga : Sambangi Polda Metro, Terlapor Dugaan Pelecehan Seksual Pegawai KPI Laporkan Balik Korban

Bercanda itu sendiri pun mesti ada batasannya dan batasan tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Maksudnya, ketika Anda menganggap melakukan X adalah bentuk candaan, tetapi bagi orang lain X adalah hinaan atau melecehkan, maka jangan kemudian Anda memaksakan kepercayaan Anda tersebut ke orang lain.

"Intinya gini, bercanda ada batasnya dan batasannya itu adalah ketika candaan tersebut tidak merugikan orang lain, orang tidak merasa terganggu, tidak merasa dilecehkan, tidak merasa tersakiti, tidak merasa terasingi, tidak merasa diabaikan, tidak membuat harga diri seseorang jatuh, dan tidak menimbulkan konflik psikologis. Itu baru benar bercanda," kata Mei.

"Tapi, kalau candaan yang Anda maksud malah menyakiti hati orang lain, maka definisi bercanda Anda harus berubah terhadap orang tersebut dan sekali lagi, jangan Anda paksakan orang lain mengikuti apa yang Anda percayai," tambahnya.

Mei mengingatkan kepada setiap orang bahwa Anda berhak bersuara saat merasa disakiti atau merasa tidak nyaman dengan perbuatan seseorang.

"Ketika Anda merasa tidak nyaman dengan perbuatan orang lain, sekalipun itu bagi mereka sesuatu yang lucu, Anda mesti bertindak dan sampaikan perasaan itu. Sampaikan bahwa Anda tidak nyaman, sampaikan bahwa Anda merasa sakit hati. Jangan ditunda," saran Mei.

Ilustrasi Korban Pelecehan

Kemudian, tambah Mei, jangan merasa bahwa apa yang dilakukan orang lain dan menyakiti hati Anda adalah sesuatu yang biasa saja. Penting bagi seseorang untuk mengutarakan perasaannya.

"Dengan menyampaikan apa yang Anda rasakan, itu akan membuat keadaan jadi lebih baik. Sebab, saat Anda 'speak up', itu akan mencegah munculnya korban-korban berikutnya dan Anda juga secara tidak langsung membantu pelaku tidak menjadi lebih agresif yang akan merugikan dirinya di kemudian hari, terlebih jika bersinggungan dengan ranah hukum," kata Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini