Stres Berlebihan Ternyata Bisa Sebabkan Kebutaan Loh

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 09 September 2021 22:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 09 612 2468887 stres-berlebihan-ternyata-bisa-sebabkan-kebutaan-loh-9BARgftEpO.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAMA masa Pandemi ini, stres mungkin telah menjadi bagian dari kehidupan. Oleh karena itu mengelola stres pun sangat diperlukan agar tidak mengalami efek samping.

Memang, ketika kita stres tekanan darah tinggi dan depresi adalah penyakit yang mungkin terjadi ketika kita stres. Tapi sebuah laporan menyebut stres dapat merusak penglihatan Anda.

Sebuah laporan baru menemukan bahwa stres psikologis dan peningkatan kadar hormon stres kortisol yang menyertainya, merupakan faktor risiko dalam penglihatan yang memburuk. Demikian seperti diterbitkan dalam jurnal Asosiasi Eropa untuk Pengobatan Prediktif, Pencegahan, dan Personalisasi.

stres

"Ada bukti yang jelas dari komponen psikosomatik kehilangan penglihatan karena stres, bukan hanya konsekuensi dari penyakit seperti glaukoma, neuropati optik, retinopati diabetik, dan degenerasi makula terkait usia," kata peneliti utama untuk studi tersebut Bernhard Sabel, Direktur Institut Psikologi Medis di Universitas Magdeburg di Jerman seperti dilansir dari Newsweek.

Sabel dan tim peneliti menemukan bahwa stres mental yang berkepanjangan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan. Menurut temuan mereka, hormon stres kortisol sebenarnya dapat merusak mata dan otak serta mengganggu aliran darah di bagian tubuh tersebut.

Mereka percaya bahwa stres mungkin menjadi salah satu penyebab utama penyakit mata, seperti glaukoma, sekelompok penyakit yang merusak saraf optik dan dapat menyebabkan kebutaan.

Karenanya, dokter mata harus memasukkan pengurangan stres ke dalam rencana perawatan mereka. Mereka juga harus berhati-hati untuk tidak menyebabkan lebih banyak stres pada pasien mereka saat memberi diagnosis.

"Perilaku dan kata-kata dokter yang merawat dapat memiliki konsekuensi yang luas untuk prognosis kehilangan penglihatan. Banyak pasien diberitahu bahwa prognosisnya buruk dan mereka harus bersiap untuk menjadi buta suatu hari nanti," tutur Dr. Muneeb Faiq di Departemen Oftalmologi Fakultas Kedokteran Universitas New York.

"Bahkan ketika ini jauh dari kepastian dan kebutaan total hampir tidak pernah terjadi, ketakutan dan kecemasan yang muncul adalah beban ganda neurologis dan psikologis dengan konsekuensi fisiologis yang sering memperburuk kondisi penyakit," tambah dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini