CDC: Orang Tidak Divaksin 11 Kali Lebih Berisiko Meninggal Akibat Varian Delta

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 13 September 2021 16:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 481 2470640 cdc-orang-tidak-divaksin-11-kali-lebih-berisiko-meninggal-akibat-varian-delta-bzFWU5otML.jpg Ilustrasi vaksinasi covid-19. (Foto: Freepik)

PUSAT Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengungkapkan data studi terbaru terkait vaksin covid-19. Hasilnya adalah orang yang tidak divaksinasi 11 kali lebih berisiko meninggal akibat covid-19 varian delta.

Data studi diambil dari pemantauan insiden kasus covid-19, pasien rawat inap, dan kematian di Amerika Serikat selama dua periode yaitu 4 April hingga 17 Juli serta 20 Juni sampai 17 Juli 2021.

Baca juga: Tren Kasus Menurun, Menkes Jelaskan 4 Strategi Penanganan Covid-19 di Indonesia 

Data pada periode 4 April hingga 17 Juli mencatat bahwa pada semua kategori, orang yang tidak divaksin angkanya paling tinggi, dibandingkan orang yang sudah divaksin satu apalagi dua dosis.

Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Reuters)

Kemudian berdasarkan data studi pada 20 Juni sampai 17 Juli, peneliti mencatat bahwa individu yang tidak divaksin 4,5 kali lebih mungkin terinfeksi virus corona dengan data riil 89,1 per 100.000; lebih mungkin dirawat di rumah sakit 7 per 100.000 kasus; dan 11 kali lebih mungkin meninggal dunia yang artinya 1,1 per 100.000.

Jangka waktu yang dipakai diketahui bertepatan dengan ditemukannya varian delta di AS. Kini negara tersebut berjibaku dengan varian delta yang menguasai seluruh kasus covid-19.

Baca juga: Viral Sosialita Cantik Rela Jadi "Pembantu" di Rumah Ibu Mertua, Rajin Cuci Piring hingga Manjat Pohon 

"Menerima suntikan vaksin covid-19 terbukti melindungi diri terhadap penyakit parah akibat serangan infeksi covid-19, termasuk serangan varian delta," catat studi tersebut, seperti dikutip dari laman Fox News, Senin (13/9/2021).

"Dengan memantau kejadian covid-19 berdasarkan status vaksinasi dapat memberikan sinyal awal tentang potensi perubahan dalam efektivitas vaksin yang dapat dikonfirmasi melalui studi terkontrol yang kuat," lanjut laporan studi tersebut.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini