Ditanya Kapan Indonesia Bebas Pandemi, Epidemiolog: 2025

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 14 September 2021 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 612 2471274 ditanya-kapan-indonesia-bebas-pandemi-epidemiolog-2025-IsKAggxPHk.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENANGANAN Covid-19 yang diperketat memang membuahkan hasil cukup baik. Tercatat, kasus positif di Indonesia mengalami penurunan tajam dari puluhan ribu menjadi kurang dari 5 ribu orang.

Bahkan, positivity rate harian Covid-19 per 13 September 2021 ada di angka 2,14 persen, sesuai dengan target Badan Kesehatan Dunia (WHO) di bawah 5 persen. Padahal kala terjadi ledakan Covid-19, angka positivity rate tertinggi pada 22 Juni 2021 sebesar 51,62 persen.

Lantas, apakah 2022 akan menjadi tahun di mana Indonesia bisa bebas dari pandemi Covid-19, terlebih jika penanganan pandemi akan terus baik seperti sekarang?

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, menerangkan bahwa rasanya masih panjang untuk mencapai status bebas pandemi Covid-19. "Masih lama banget," katanya saat diwawancara di Instagram Live Okezone, Selasa (14/9/2021).

"Saya harus sampaikan kabar kurang bagus, berdasar kajian terakhir saya dan beberapa peneliti di beberapa negara, kondisi seperti ini (pandemi Covid-19) akan berlangsung setidaknya sampai 2025," tambahnya.

Meski begitu, Dicky menekankan bahwa itu bukan berarti kehidupan akan selalu sulit. Seperti yang sudah banyak disinggung oleh pemerintah maupun pakar kesehatan, hidup berdampingan adalah solusi utamanya.

Itu kenapa protokol kesehatan tidak boleh berhenti dilakukan sekalipun vaksinasi terus banyak diberikan ke masyarakat. Selain itu, tentu saja upaya vaksinasi yang merata di semua daerah perlu dilakukan sesegera mungkin.

Pandemi bisa dikatakan hilang jika 2 benua saja dinyatakan dalam kondisi terkendali. "Terkendali di sini artinya, kasus Covid-19 paling banyak 10:1.000.000 penduduk, kematian 2:1.000.000 penduduk, dan positivity rate di angka 0 sekian persen enggak pernah lebih dari itu," terangnya.

Faktor lain yang menentukan tentu saja berapa cakupan vaksinasi yang sudah diberikan ke masyarakat. Pasalnya, dengan tingginya angka Vaksinasi maka akan membuat kekebalan kelompok atau herd immunity lebih nudah tercapai.

"Idealnya itu di atas 85% per negara untuk varian baru ini. Ini yang paling berat untuk negara, soal vaksin beredar teori konspirasi dan kesediaan vaksin pun susah," tambah Dicky. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini