Heboh Video LGBT Bahayakan Anak-Anak, Ini Solusi dari Psikolog

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 16 September 2021 09:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 612 2472153 heboh-video-lgbt-bahayakan-anak-anak-ini-solusi-dari-psikolog-B43Qt2QUWF.jpg Ilustrasi heboh video LGBT. (Foto: Shutterstock)

BEBERAPA waktu belakangan para orangtua di Indonesia diresahkan munculnya video 'Aku Bukan Homo'. Pasalnya, konten bernuansa LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) tersebut dapat diakses dengan mudah di media sosial. Artinya, anak-anak mungkin bisa melihat tayangan tersebut di ponselnya.

Kemunculan video LGBT ini pun seharusnya menjadi sentilan untuk para orangtua agar tidak membebaskan anaknya berselancar di media sosial. Pengawasan masih harus dilakukan orangtua karena si anak masih menjadi tanggung jawabnya.

Baca juga: Ramai Video 'Aku Bukan Homo', KPAI Lapor ke Kominfo 

Video lagu berisi animasi pisang, jeruk, dan kata-kata yang dianggap kurang ramah anak tersebut pun tidak diketahui pasti apa tujuannya dibuat. Tidak ada keterangan yang disampaikan oleh pembuat video hingga sekarang.

Namun, penekanan mengenai promosi LGBT yang kemudian ditangkap masyarakat. Ini yang dianggap masyarakat sangat berbahaya jika dilihat anak-anak.

Tapi, apakah orangtua boleh mengajarkan pemahaman mengenai orientasi seksual ke anak? Kemudian, bagaimana semestinya orangtua menyikapi kemunculan video LGBT ini?

Ilustrasi LGBT.

Psikolog anak Karina Istifarisny menerangkan bahwa anak-anak sudah boleh diajarkan mengenai orientasi seksual, tetapi bukan orientasi yang menyimpang.

"Ya, lebih kepada orientasi yang diharapkan saja. Homoseksual sudah bukan lagi termasuk gangguan psikologis sekarang ini," kata Karina kepada MNC Portal melalui pesan singkat, Rabu 15 September 2021.

Baca juga: Beautypedia, Ini Metode Ampuh untuk Miliki Gigi Putih Alami 

Ia menerangkan, mengajarkan orientasi seksual ke anak sebaiknya tidak vulgar, tetapi harus penuh dengan nilai. Misalnya dengan cara memperkenalkan konsep berpasangan.

"Dari yang paling dekat dengan si anak, misal hitam pasangannya putih, gelap pasangannya terang, laki-laki pasangannya perempuan," ungkapnya.

Konsep orientasi seksual ini pun sebaiknya diperkenalkan sesudah si anak mengerti apa itu identitas seksualnya. Ya, para orangtua mestinya membantu si anak mengidentifikasi dirinya terlebih dulu baru kemudian mengenalkan orientasi seksual.

"Bantu si anak paham kalau dirinya itu laki-laki atau perempuan. Apa bedanya laki-laki dan perempuan. Kalau Muslim, bisa dibantu penjelasannya dalam tata cara beribadah, salah satunya kalau perempuan ibadah pakai mukena, sedangkan laki-laki tidak," kata Karina.

Baca juga: Aktivitas di Luar Rumah Selama Pandemi, 4 Barang Ini Wajib Dibawa 

"Diberi tahu juga ke si anak kalau dia laki-laki berarti dia seperti ayah, kalau perempuan seperti ibu. Jadi, sekali lagi, kedekatan orangtua dan anak menjadi penting di sini, sehingga anak akan bisa meniru dan berperan seperti orangtuanya, sesuai gendernya," tambahnya.

Karina coba memberikan pesan kepada orangtua berkaca dari kasus ini yaitu diharapkan para orangtua memperlihatkan kehangatan di depan anak. Ini akan membantu si anak memahami bagaimana hubungan itu terjalin.

Baca juga: 7 Manfaat Install Aplikasi PeduliLindungi, Ada Teledokter Lho 

"Biarkan si anak melihat bahwa hubungan laki-laki dan perempuan ini bahagia, sehingga dia kelak ketika akan memilih pasangan, ingin merasakan sebagaimana yang dirasakan orangtuanya," saran Karina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini