Napak Tilas Hari Palang Merah Indonesia, Pertama Dibuat oleh Bung Hatta

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Jum'at 17 September 2021 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 612 2472941 napak-tilas-hari-palang-merah-indonesia-pertama-dibuat-oleh-bung-hatta-FbuxFP9xyU.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

HARI Palang Merah Indonesia (PMI) diperingati pada 17 September. Putri Bung Hatta Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono menceritakan bagaimana peran ayahnya dalam mendirikan PMI.

Pada 17 September 1945, satu bulan sesudah Indonesia merdeka, PMI dibentuk. Itu berkat kesadaran pemimpin nasional, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sendiri yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi Ketua Palang Merah Indonesia.

Khususnya Bung Hatta sadar bahwa  Indonesia harus segera berperan internasional, seperti umumnya peranan Palang Merah/ the Red Cross.

 Donor darah

"Wakil Presiden harus menjadi Ketua PMI menghadapi dunia internasional. Arti lainnya adalah bahwa PMI tidak hanya mengurusi masalah kemanusiaan saja, melainkan juga PMI otomatis harus mngurusi tawanan perang, baik tawanan perang Jepang maupun tawanan perang Belanda yang harus dipulangkan ke negara mereka masing-masing," katanya lewat keterangan tertulis yang diterima Jumat (17/9/2021).

Peranan seorang wakil presiden pun dibutuhkan untuk berdialog dan menetapkan kesepakatan. Karena usia Indonesia masih sangat muda, maka diperlukan pemimpin pucuk dari negara untuk menanganinya dengan pihak internasional.

"Demikianlah Bung Hatta secara taktis dan strategis melalui PMI melibatkan Indonesia dalam international affairs, dan itu berhasil, sehingga Indonesia sebagai negara yang masih sangat muda, secara nyata sudah memegang peranan internasional," ujar Prof Meutia.

Sesudah pertemuan bersama PMI internasional, Indonesia sebagai negara baru menjadi dikenal di dunia internasional. Maka selesailah tugas Bung Hatta di PMI.

"Beliau kemudian menyerahkan jabatan Ketua PMI kepada dr. Buntaran yang memang merupakan seorang dokter, sehingga tepat untuk menjabat sebagai Ketua PMI," ungkapnya.

Sejak saat itu, faktor kesehatan dan sosial-budaya, serta perlindungan kepada rakyat Indonesia menjadi pertimbangan utama dari kegiatan PMI kala itu. Terlebih, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk mempertahankan kemerdekaannya, yang terwujud dalam perang kemerdekaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini