Learning Loss Ancam Generasi Muda Pasca-Pandemi, Masalah Apa Itu?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 18 September 2021 13:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 18 612 2473308 learning-loss-ancam-generasi-muda-pasca-pandemi-masalah-apa-itu-ngU0nxYbmo.jpg Learning loss ancam generasi muda (Foto: Cafemom)

RUPANYA riset terbaru Lembaga Keuangan World Bank menemukan, learning loss menjadi ancaman serius pelajar Indonesia pasca-pandemi Covid-19.

Salah satu faktor penyebabnya adalah pembelajaran jarak jauh dan lamanya sekolah ditutup.

"Jika efektivitas pembelajaran mencapai 40%, akan ada learning loss mencapai 6,9 tahun. Jika efektivitas pembelajaran berkurang menjadi 20%, learning loss akan mencapai 6,7 tahun. Dan jika efektivitas pembelajaran cuma mencapai 10%, learning loss yang didapat akan menjadi 6,6 tahun," papar Rythia Afkar, World Bank Education Economist, beberapa waktu lalu.

 pembelajaran jarak jauh

Lantas, apa sebetulnya learning loss? Apa dampaknya ke generasi muda? Serta, bagaimana mengatasinya?

Menurut laman UKFIET, learning loss mengacu pada kehilangan pengetahuan dan keterampilan khusus atau umum atau kemunduran dalam hal akademik. Masalah ini paling sering terjadi karena kesenjangan yang diperpanjang atau diskontinuitas dalam pendidikan dan itu terjadi saat pandemi ini.

Pandemi Covid-19 membuat sistem pendidikan menjadi tak seperti dulu. Dan studi yang dilakukan McKinsey menilai bahwa komputer tidak akan bisa menggantikan suasana kelas.

"Kami meminta guru di delapan negara untuk menilai keefektifan pembelajaran jarak jauh sejak pandemi dimulai. Mereka memberikan skor rata-rata 5 dari 10. Nilai sangat buruk diberikan Jepang dan Amerika Serikat di mana hampir 60 persen menilai efektivitas pembelajaran jarak jauh hanya 3 dari 10," papar laman McKinsey, Sabtu (18/9/2021).

Bagaimana ancaman learning loss dapat dikurangi?

Salah satunya adalah membuka kembali sekolah tatap muka. Berdasar standar yang diberikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), anak-anak yang sekolah lagi wajib pakai masker dan jaga jarak.

Lalu, pada studi McKinsey disarankan agar sekolah tatap muka tetap dijalankan asal dilangsungkan selama 50 jam pengajaran selama 2 minggu atau sekitar kurang dari 2 jam per hari.

Tak hanya itu, strategi mengisi kesenjangan pembelajaran perlu dilakukan dan disesuaikan pastinya dengan kondisi saat ini. Hal ini dianggap cukup 'adil' di situasi pandemi Covid-19.

"Jadi, harus disediakan pelajaran standar berdasarkan usia siswa dan modalitas pembelajaran jarak jauh mereka. Pastikan juga guru mempertahankan minat belajar siswa misal dengan memverifikasi kehadiran online termasuk waktu libur mereka," terang laporan UKFIET.

Selain itu, kunjungan langsung guru ke rumah siswa dengan tentunya mengikuti protokol kesehatan bisa menjadi salah satu solusinya. "Kemudian guru menindaklanjuti proses pembelajaran melalui media online," tambahnya.

Hal yang cukup penting di sini juga adalah keterlibatan orangtua sebagai guru anak-anak di rumah. Kegiatan bersama orangtua membantu menciptakan solidaritas sekaligus kedekatan anak dengan orangtua semakin baik. Ini juga meningkatkan semangat si anak karena dilibatkan dalam proses pembelajaran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini