Learning Loss, Alasan Kenapa Sekolah Tatap Muka Harus Segera Dilakukan

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 19 September 2021 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 19 612 2473573 learning-loss-alasan-kenapa-sekolah-tatap-muka-harus-segera-dilakukan-NwDCJJReBM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PEMERINTAH memang telah menurunkan level PPKM di berbagai daerah. Selain itu, beberapa kegiatan pun kembali diperboleh kan salah satunya adalah sekolah tatap muka.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, mengungkapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas penting untuk menghindarkan generasi muda Indonesia dari penurunan capaian pembelajaran atau learning loss. Pasalnya sebuah penelitian menyebut anak-anak di masa pandemi memiliki IQ lebih rendah.

"Percepatan penuntasan vaksinasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) bisa menjadi dorongan untuk mengembalikan anak ke sekolah secara terbatas," kata dia seperti dilansir dari Antara.

PTM terbatas merupakan upaya menyelamatkan anak-anak Indonesia dari risiko dampak negatif Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara berkepanjangan. Jika tidak segera menerapkan Pertemuan Tatap Muka terbatas, generasi ini dikhawatirkan akan sangat sulit untuk mengejar ketertinggalan.

Kominfo menilai PJJ yang berkepanjangan bisa berdampak besar dan permanen terhadap pelajar. Dampak yang sangat diantisipasi, diantaranya putus sekolah, penurunan capaian pembelajaran, dan kesehatan mental serta psikis anak-anak.

"Pandemi Covid-19 telah menyebabkan learning loss yang sangat signifikan. Jika dibiarkan secara jangka panjang, semua ini bisa menjadi risiko yang lebih besar dibandingkan risiko kesehatan," kata Johnny.

Berdasarkan riset INOVASI dan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, pendidikan di Indonesia sudah kehilangan 5-6 bulan pembelajaran per tahun. Riset Bank Dunia juga menyatakan, dalam kurun waktu 0,8 sampai dengan 1,3 tahun, compounded learning loss dengan kesenjangan antara siswa kaya dengan siswa miskin meningkat 10 persen.

Riset yang sama juga menyatakan bahwa tingkat putus sekolah di Indonesia meningkat sebesar 1,12 persen, di mana angka tersebut 10 kali lipat dari Angka Putus SD Tahun 2019. Bank Dunia memperkirakan, saat ini di Indonesia ada 118.000 anak usia SD yang tidak bersekolah. Angka tersebut, menurut Johnny, lima kali lipat lebih banyak daripada jumlah anak putus SD pada tahun 2019.

Penulis utama Sebuah penelitian sekaligus profesor penelitian pediatrik Brown University Sean Deoni mengungkapkan bahwa bayi yang lahir di masa pandemi Covid-19 akan mengalami hambatan dalam ruang dan gerak, yang akan berakibat serius pada perkembangan kognitif otaknya. Hasilnya, mereka yang ruang geraknya terbatas akan memiliki IQ rendah.

Para ilmuwan menganalisis kinerja kognitif dari 672 anak yang lahir di Rhode Island; sebanyak 188 di antaranya lahir di tengah pandemi Covid-19 (setelah Juli 2020); 308 bayi lahir sebelum pandemi (sebelum Januari 2019); dan 176 bayi lainnya lahir di awal pandemi (antara Januari 2019 hingga Maret 2020).

Salah satu sumber penyebab dari masalah ini, kata Prof Deoni adalah kondisi pandemi yang mengharuskan orang-orang menghabiskan begitu banyak waktu di dalam rumah dengan orangtua yang kewalahan selama setahun terakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini