Pentingnya Upaya Serius Mencegah Stunting

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis · Senin 20 September 2021 17:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 481 2474164 pentingnya-upaya-serius-mencegah-stunting-smWcGbFTBG.jpg Mencegah anak stunting (Foto: NIH)

RUPANYA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa ada sekitar 17 juta keluarga Indonesia risiko stunting. Oleh karena itu upaya mencegah stunting harus dimasifkan.

"Dari 17 juta angka prediksi saya, 2 juta berasal dari keluarga baru nikah atau baru mau menikah, kemudian keluarga dengan ibu hamil 5 juta, dan keluarga yang memiliki anak 1 tahun 5 juta, serta keluarga dengan anak kurang dari 2 tahun tetapi lebih dari 1 tahun ada 5 juta," ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo belum lama ini.

 mencegah anak stunting

Pendampingan kepada keluarga risiko tinggi stunting ini sudah dilakukan BKKBN, salah satu upaya penanganan adalah dengan mencegah calon orangtua baru melahirkan bayi stunting dengan mengharuskan mereka mengisi syarat nikah baru yang rencananya akan dijalankan awal 2022.

"Jika terpaksa harus menikah dalam kondisi yang tidak ideal (ditemukan data medis hb rendah, lila kurang, zat besi kurang, maka Petugas Pendamping dari BKKBN merekomendasikan calon pengantin untuk menunda kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi," kata Hasto.

Sementara itu, TIM Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) terus berusaha menggerakkan upaya agar Merdeka dari Stunting.

Safriati Safrizal, Ketua Bidang IV TP PKK Pusat menjelaskan, Tim Penggerak PKK sejatinya mendapat amanat dan tanggung jawab besar untuk segera menurunkan stunting di tanah air. Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting, yang baru sepekan lalu ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

"Angka stunting saat ini ada pada kisaran 27,6 persen atau hampir 30 persen. Presiden menargetkan kita untuk dapat menekan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024 atau sekitar 2,5 persen per tahunnya," kata Safitri.

Safitri menuturkan, untuk dapat memenuhi target tersebut, perlu didukung oleh semua pihak. Upaya pencegahan dan penanganan stunting sebaiknya juga dilakukan secara paralel. Baik dari TP PKK tingkat kabupaten atau kota, serta desa dan kelurahan.

Bahkan, untuk menyukseskan program tersebut, ia mengaku, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi lebih gencar.

Di antaranya, fokus pada bina keluarga baduta atau balita (BKB), pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI). Serta fokus mengedukasi pemantauan tumbuh kembang anak di 1000 hari pertama kehidupan.

"Permasalahan stunting atau atau anak kurang asupan gizi ini berpotensi mengganggu SDM (sumber daya manusia) kita di masa depan. Generasi bangsa harus kita persiapkan dari sekarang untuk memiliki kesehatan dan daya saing tinggi," pungkasnya.

Sementara itu, Qonita Rachmah selaku Sekretaris 3 Pengurus Pusat TP PKK yang juga Ahli Kesehatan dan Gizi membenarkan, bahwa penanganan stunting atau atau anak kurang asupan gizi merupakan program prioritas nasional yang harus didukung, dan turut disukseskan di daerah.

Salah satu caranya, ujar Qonita, dengan melakukan rembuk stunting dan penguatan komitmen pimpinan daerah serta lintas sektor, lintas program dan masyarakat dalam percepatan penurunan stunting. Sehingga, pencegahan stunting dapat menjadi gerakan masiv dan struktur.

"Untuk Menurunkan preferensi stunting ini, perlu 'keroyokan'. Ini tugas kita bersama, karena masalah stunting melibatkan multipihak baik non pemerintah, ormas, akademisi, media, UKM dan mitra pembangunan untuk duduk bersama, apa yang bisa kita lakukan di wilayah kita. Seperti memastikan kecukupan suplai makanan di wilayah kita," tutup Qonita

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini