Hari Kontrasepsi Sedunia: Pandemi Sebabkan Perempuan Takut ke Faskes

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 481 2476266 hari-kontrasepsi-sedunia-pandemi-sebabkan-perempuan-takut-ke-faskes-YHaJcNdJbX.jpeg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

SELAMA pandemi Covid-19, jutaan perempuan telah kehilangan akses dalam perencanaan keluarga atau kontrasepsi dan melindungi kesehatan mereka. Berdasarkan data dari International Planned Parenthood, menyatakan bahwa 5.633 klinik statis dan bergerak, serta layanan perawatan berbasis komunitas, di 64 negara telah ditutup pada April 2020.

Penutupan tersebut dilakukan karena wabah Covid-19. Direktur Program dan Kinerja, East South East Asia and Oceania Region (ESEAOR), Malaysia, International Planned Parenthood Federation, dr. Jameel Zamir, menyatakan telah mengamati tiga poin keterlambatan utama yang semakin diperparah oleh wabah. Alhasil kondisi tersebut menyebabkan peningkatan kehamilan yang tidak direncanakan.

Kontrasepsi IUD

Tiga poin keterlambatan tersebut di antaranya adalah:

1. Keterlambatan perempuan dalam mendapatkan informasi keluarga berencana.

2. Keterlambatan perempuan untuk dapat mengakses fasilitas medis secara fisik, dokter dan obat-obatan karena pembatasan gerakan.

3. Keterlambatan dalam mendapatkan dan menjalankan kembali layanan kesehatan.

“Di lapangan, saya telah melihat masalah rantai pasokan, fasilitas kesehatan yang kewalahan, dan perempuan takut mencari perawatan kesehatan. Ketika akses ke keluarga berencana terganggu, seluruh keluarga berjuang untuk mengatasinya," terang dr. Jameel, dalam Virtual Roundtable World Contraception Day 2021, Jumat (24/9/2021).

Baca Juga : 6 Penyebab Pil KB Tak Berhasil Cegah Kehamilan

Pembatasan pergerakan tersebut mendorong para perempuan untuk mencari informasi lebih lanjut secara daring tentang perawatan kesehatan dan keluarga berencana. Senada dengan de. Jameel, OBGYN & Digital Thought Leader, President of Quezon City Medical Society District IV (Filipina), dr. Michelle Dado juga menyoroti hal tersebut.

“Saat ini, banyak perempuan di Filipina yang memanfaatkan fasilitas daring, dan saya telah melihat perubahan sikap dan permintaan untuk lebih banyak dokter dengan jasa daring. Yang menyedihkan adalah banyak perempuan yang menggunakan layanan daring, tetapi para dokter belum,” kata dr. Michelle.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini