6 Fakta Seputar Stroke, Benarkah Bisa Terjadi karena Vaksin Covid-19

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 19:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 481 2476447 6-fakta-seputar-stroke-benarkah-bisa-terjadi-karena-vaksin-covid-19-WD3x991F2k.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

STROKE mungkin menjadi salah satu penyakit tidak menular yang cukup banyak terjadi. Apalagi, stroke pun sulit untuk didiagnosis. Biasanya penyakit ini baru bisa terlihat ketika sudah menyerang, tidak jarang korbannya akan mengalami kelumpuhan.

Penyakit satu ini tak kenal gender, bisa dialami oleh siapa pun tanpa terkecuali. Maka dari itu, penting adanya untuk mengetahui fakta-fakta seputar stroke, agar kita semua bisa lebih paham dan waspada. Sehingga bisa menghindari faktor resiko dan memperkecil peluang terserang stroke.

Merangkum penjelasan dokter ahli saraf, Dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, sekaligus Dirut Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, sebagaimana yang disampaikan dalam konferensi pers RS PON dan Kementerian Kesehatan RI, Jumat (24/9/2021). Berikut ulasan enam fakta seputar penyakit stroke.

Stroke pendarahan

Untuk rasio persentase pasien, Dr. Mursyid menyebutkan setidaknya 20 persen penderita stroke itu adalah stroke jenis pendarahan. Sisa yang lainnya, stroke penyumbatan pembuluh darah. Dua kondisi stroke inilah yang sering ia temui, terutama di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta.

Stroke

Hipertensi picu stroke pendarahan

Stroke pendarahan biasanya dialami oleh pengidap hipertensi (darah tinggi). Ini adalah faktor resiko yang dikatakan Dr. Mursyid sebagai faktor resiko yang sering diidap oleh orang yang mengalami stroke pendarahan. “Yang terjadi adalah kuatnya pembuluh darah, atau titik lemah di pembuluh darah itu tidak kuat menahan tekanan darah yang tinggi. Sehingga terjadi kebocoran dan keluar darah dari pembuluh darah. Inilah yang menimbulkan masalah,” ujar Dr. Mursyid.

Vaksin Covid-19 dan stroke pendarahan

Secara tegas, Dr. Mursyid meluruskan kabar simpang siur yang beredar jika vaksin Covid-19 bisa memicu terjadinya stroke pendarahan. Hal ini adalah salah, karena vaksin Covid-19 tidak ada hubungannya dengan stroke hemoragik. “Tidak ada hubungan antara stroke pendarahan dengan vaksin Covid-19. Apa pun jenisnya atau mereknya, belum ada yang mengatakan bahwa ada resiko terjadinya stroke pendarahan akibat vaksin Covid-19,” tegasnya.

Kekentalan darah karena vaksin Covid-19

Sama halnya tentang vaksin Covid-19 dan stroke pendarahan. Dokter Mursyid menjelaskan, tidak ada korelasi vaksin Covid-19 dengan bisa meningkatknya kekentalan darah dalam tubuh seseorang. Hal ini ia sampaikan, merujuk pada pengalamannya sebagai dokter ahli saraf dan juga laporan yang ia terima dari para spesialis saraf lainnya.

“Paling tidak, kami tidak pernah menerima pasien yang mengalami stroke, pasca vaksin Covid-19. Dari beberapa laporan yang kami dapat, dari ahli saraf juga tidak mengatakan bahwa ada pasien yang strok (pendarahan atau penyumbatan) setelah menerima vaksin Covid-19,” ujar Dr. Mursyid

Tanpa keluhan

Faktanya, pada stroke jika pembuluh darah belum pecah, memang belum ada keluhan apa pun. Sebagian besar orang yang mengalami stroke pendarahan diketahui sebelumnya tak pernah merasakan gejala kesakitan apa pun. Dari keterangan dokter Mursyid, sebanyak 70 persen pasien mengeluh sakit kepala, tapi saat terjadinya stroke. Sebelumnya belum mengalami apa-apa. Ini artinya, orang tersebut sebelumnya dalam kondisi sehat lalu tiba-tiba sakit.

Dua faktor resiko

Untuk stroke, ada dua faktor resiko yakni yang tidak bisa dikendalikan dan yang bisa dikendalikan. Faktor resiko yang tak bisa dikendalikan, adalah faktor alami seperti penambahan usia. Semakin lanjut usia seseorang, maka resiko terjadinya stroke akan semakin besar. Untuk faktor yang bisa dikendalikan, ada beberapa yakni di antaranya seperti hipertensi, diabetes, gaya hidup, gangguan pembekuan darah, gangguan irama jantung, kolesterol tinggi, pola istirahat, hingga berat badan.

“Jadi kendalikan lah faktor-faktor resiko ini, untuk mengurangi peluang kena stroke. Ada hipertensi, diabet atau kolesterol tinggi, minum obat secara teratur, makan makanan sehat, kurangi atau hindari merokok,” pesan Dr. Mursyi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini