Share

Jangan Sepelekan Lupa Berulang, Mungkin Itu Demensia Alzheimer!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 18:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 481 2476456 jangan-sepelekan-lupa-berulang-mungkin-itu-demensia-alzheimer-iLFnoEEs8r.jpeg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

LUPA berulang hingga memengaruhi aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan secara khusus. Kondisi tersebut mungkin awal dari masalah Demensia Alzheimer.

Alzheimer sendiri merupakan gangguan penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, emosi, perilaku, dan fungsi otak lainnya seperti pengambilan keputusan dan komunikasi. Menurut catatan Alzheimer Indonesia, 1 dari 10 orang yang berusia di atas 65 tahun mengidap Alzheimer.

Ada 10 gejala umum Alzheimer yaitu gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan sehari-hari, disorientasi waktu dan tempat, susah memahami visuospasial, pun gangguan berkomunikasi.

Orang dengan Alzheimer juga menaruh barang tidak pada tempatnya, salah membuat keputusan. kebanyakan menarik diri dari pergaulan, serta perubahan perilaku dan kepribadian.

Demensia

William Buntoro salah seorang penderita Demensia Alzheimer. Pria berusia 72 tahun itu mengaku awal-awal gejala yang dialami adalah mudah sekali lupa, termasuk lupa waktu dan hari.

"Kadang saya lupa menaruh barang atau juga lupa hari. Jadi, ya, kadang yang membantu saya untuk mengenali hari dan waktu adalah jam tangan saya ini," terangnya di webinar 'Kenali Demensia Alzheimer, Pentingnya Deteksi Dini', Jumat (24/9/2021).

Baca Juga : Hari Alzheimer Sedunia, Kenali asal Mula Penyakit Penyebab Demensia Ini

Bahkan, William bercerita kalau dirinya sempat lupa arah pulang saat mengunjungi rumah anaknya di Pekanbaru, Riau. Momen itu terjadi saat dirinya iseng setelah Maghrib berkeliling keluar rumah sang anak.

Karena lokasi rumah sang anak dekat dengan pertokoan, dia pun coba berkeliling melihat-lihat. Namun, saking fokusnya dengan menjelajahi tempat, saat sadar dirinya tidak tahu sudah ada di mana dan alhasil tidak tahu jalan pulang.

"Untungnya saya bawa hp, jadi bisa langsung telepon anak untuk jemput saya. Padahal, kalau dilihat lagi, jalan arah pulang tinggal lurus doang," ceritanya.

Sejak kejadian tersebut, William memutuskan untuk datangi dokter spesialis syaraf. Harapannya, supaya tahu apa yang sebetulnya terjadi dengan tubuhnya karena mengalami lupa yang berulang dan cukup mengganggu aktivitas sehari-harinya.

"Akhirnya saya berkonsultasi ke dokter syaraf. Nah setelah saya konsultasi, saya di MRI. Dari hasil itu, saya dicurigai ada pengecilan di otak. Setelah MRI, saya diminta berkonsultasi dengan dokter spesialis fungsi luhur di RSCM Jakarta," ungkap William awal mula dirinya mendeteksi Alzheimer.

"Saya konsultasi di sana, ada psikotes panjang di dalam sesi konsultasinya. Selesai dan diminta menunggu hasil dianalisis. Tak lama setelah itu, saya kembali ke dokter syaraf dan diagnosis pengecilan di otak pun keluar," lanjutnya.

William pun bertanya, ini kenapa? Sang dokter coba menjelaskan beberapa faktor risiko, tetapi menurutnya yang cukup dekat dengan apa yang dialami adalah stres pekerjaan yang sangat tinggi.

Sejak saat itu, William mengaku rutin konsultasi dengan dokter syaraf, mengonsumsi obat-obat yang diresepkan, namun tetap berkegiatan seperti biasa. Ini juga membuktikan bahwa orang dengan demensia (ODD) tetap bisa produktif di masa tuanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini