Waktu Tak Bisa Diputar Ulang, Ini Sebabnya Sekolah Tatap Muka Penting

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 12:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 612 2476236 waktu-tak-bisa-diputar-ulang-ini-sebabnya-sekolah-tatap-muka-penting-Ce9hC58GdR.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENURUNAN jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia membuat pemerintah membuka kembali beberapa sekolah. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pun bisa dilakukan di beberapa wilayah, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat.

Tapi, masalah timbul setelah beberapa sekolah melaporkan ada sejumlah siswa yang terpapar Covid-19. Sejumlah klaster sekolah bermunculan imbas dari PTM yang kembali dibuka.

Pakar Epidemiologi Universitas Grifftith Australia, Dicky Budiman, mengatakan langkah pemerintah memulai kembali PTM adalah keputusan yang tepat. PTM memang harus jadi prioritas dibanding membuka-buka sektor lain. Sebab ini adalah masalah masa depan, dan pendidikan anak-anak yang tidak bisa kembali waktunya.

“Anak-anak membutuhkan rangsangan tidak hanya dari video, tapi harus secara langsung seperti beraktivitas dan bermain. Dan masa-masa seperti ini tidak bisa kembali lagi, jadi kalau sampai terlewatkan ya akan rugi besar. Oleh karena itu strategi yang harus dilakukan pemerintah di setiap sektor dan level harus bisa menunjang atau berpihak pada anak,” kata Dicky, saat dihubungi MNC Portal, Jumat (24/9/2021).

Lebih lanjut Dicky menjelaskan, dalam skema besar strategi pandemi, sekolah menjadi sektor yang paling akhir di tutup dan pada akhir pandemi menjadi sektor yang paling awal dibuka. Konsep ini tidak berubah dari puluhan tahun lalu hingga sekarang.

Oleh sebab itu, kesadaran peran posisi sekolah inilah yang membuat semua pihak harus sadar bahwa harus berpihak dengan cara meminimalisir risiko.

“Meminimalisir risiko itu dengan cara pemerintah melakukan sistem 3T dengan transparan dan harus valid datanya. Kalau datanya tidak valid ini akan membuat di tengah situasi yang turun tapi adanya klaster ini membuktikan sebaliknya bahwa datanya tidak valid. Ini juga menjadi contoh bahwa jika testingnya dilakukan secara benar kita akan tahu kondisi sebenarnya,” tuntasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini