Sekolah Tatap Muka Sebabkan Angka Covid-19 Naik, Perlukah Ditunda Lagi?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 24 September 2021 15:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 612 2476342 sekolah-tatap-muka-sebabkan-angka-covid-19-naik-perlukah-ditunda-lagi-ihHWlv335B.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

IMBAS pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah wilayah level 1-3 di Indonesia ada ribuan siswa dilaporkan terinfeksi Covid-19. Tentunya saja kondisi ini harus menjadi evaluasi, jika memang pembelajaran tatap muka masih ingin diteruskan.

Sebab, selama masa pandemi Covid-19, banyak siswa yang dilaporkan mengalami learning loss (Ketertinggalan Pemberlajaran). Mengenaskannya lagi, dilaporkan sejumlah siswa lupa cara membaca akibat pembelajaran jarak jauh (PTT) yang dinilai kurang efektif.

Pakar Epidemiologi Universitas Grifftith Australia, Dicky Budiman, menegaskan bahwa keputusan pemerintah untuk kembali melakukan PTM adalah pilihan yang tepat. Meski demikian, ada beberapa poin yang masih harus dikaji dan diperbaiki, agar PTM tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa mengabaikan risiko penularan Covid-19.

“Jadi ada faktor yang sebenarnya jadi titik lemah dan titik lengah yang harus diperbaiki. Sekolah harus tetap menjadi prioritas. Tapi tentu harus ditunda dulu kalau saat ini. Kalau dari sisi seorang epidemiolog, menyusun strategi pandemi seperti wabah maupun sebagai orangtua ya tetap saya setuju PTM dengan adanya mitigasi risiko yang dilakukan dengan sangat kuat, konsisten, dan berkomitmen,” ujar Dicky, saat dihubungi MNC Portal, Jumat (24/9/2021).

Lebih lanjut Dicky mengatakan, jika PTM tidak dilakukan maka jauh lebih besar dampak kerugiannya. Sebab, jika berbicara sekolah, maka jauh lebih penting masa depan anak-anak ini.

Data secara global epidemilogi, menunjukan anak-anak memang ada dalam posisi paling rendah risikonya terinfeksi Covid-19. Tapi bukan berarti tidak mungkin berisiko terkena. Data global ini menyatakan risikonya sebesar 2% dan itu tidak jauh beda dengan Indonesia.

“Intinya Indonesia harus mengkaji dan mencari mana titik lemah dan titik lengah yang harus diperbaiki, termasuk dari manajemen pengendalian Covid-19 di tingkat daerah dan secara nasional bahwa datanya harus kuat dan valid, serta metodologinya harus benar,” tuntasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini