Pembelajaran Tatap Muka Jadi Klaster Baru Covid-19? Begini Bantahan Menkes

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 27 September 2021 18:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 481 2477695 menkes-bantah-pembelajaran-tatap-muka-jadi-klaster-baru-covid-19-z2RQVKQe31.jpg Ilustrasi (Foto : Thestar)

BELAKANGAN ini ramai beredar kabar soal pembelajaran tatap muka (PTM) telah menimbulkan klaster baru Covid-19 di beberapa daerah. Kabar ini secara tegas dibantah oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.

Menkes Budi menyebutkan sebetulnya kasus yang terjadi di lapangan, tidak terlalu banyak seperti yang ramai dibicarakan.

“Jadi kalau kemarin beredar hoaks kalau klasternya demikian banyak, sebenarnya enggak demikian. Ini kami sampaikan datanya secara transparan,” kata Menkes Budi, ketika siaran langsung Keterangan Pers Menko dan Menteri Terkait Hasil Ratas PPKM, Senin (27/9/2021).

Sekolah Tatap Muka

Dalam data evaluasi pelaksanaan PTM yang dipaparkan oleh Menkes Budi, dibeberkan data sampling dari empat daerah. DKI Jakarta dengan periode tes 1 sampai 21 September 2021 dan 31 Agustus-20 September, Kota Semarang sejak 12-25 September 2021, Kota Surakarta dan Kota Pekalongan pada 22 September 2021.

“Sesudah PTM dijalankan, kita jalankan sampling yang agak besar itu di Jakarta dan Semarang. Jadi ada berapa di sekolah, 89 subjek dites di Semarang ada 258 sekolah yang dites dengan masing-masing sekolah enggak terlalu banyak hanya sekitar 15 orang,” tambah Menkes Budi.

Baca Juga : Menkes: Positivity Rate di Atas 5 Persen, Sekolah Akan Ditutup 14 Hari

Hasilnya menunjukkan, untuk DKI Jakarta di periode tes 1-21 September ada 66 positif dan 2047 negatif, menghasilkan positivity rate 3,12 persen. Lalu untuk periode tes 31 Agustus-20 September ada 107 yang positif dan 2017 yang negatif, menghasilkan positivity rate 5,01 persen.

Baca Juga : Analisis Pakar Soal Penularan Covid-19 Melalui Udara di Ruang Kelas Sekolah

Lalu untuk Kota Semarang, hanya ada 9 orang yang positif sisa 3689 nya negatif sehingga positivity rate di bawah 1 persen tepatnya hanya 0,024 persen. Sedangkan untuk Kota Surakarta dan Kota Pekalongan, nihil yang positif sehingga positivity ratenya di angka 0,0 persen.

Menkes Budi menyebutkan, untuk DKI Jakarta memang sampel diambil di daerah yang kecamatannya zona merah dan kuning.

“Jakarta ini kita ambil di daerah-daerah yang kecamatannya merah dan kuning. Jadi memang yang daerahnya tinggi-tinggi dicek terus,” lanjutnya.

Ia kembali menegaskan, dari data yang ada angka positif menunjukkan angka yang kecil. Maka dari itu, tidak bisa disebut sebagai klaster penyebaran.

“Kita lihat, dari 22 sekolah ada 8 sekolah yang enggak ada sama sekali (hasil positif), yang lainnya jika ada pun angkanya kecil-kecil. Itu bukan klaster, karena klaster itu kita definisikan kalau penyebarannya terjadi di sekolah. Kalau 30 orang diswab, yang positif cuma satu, itu bukan klaster,” tutup Menkes Budi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini